Vanilla

Vanilla : 10. Abang dan Cookies Kesukaan

Update setiap hari Minggu

“Van, antar ke rumah depan ya?”

“Issh, Mama aja kenapa sih? Aku sibuk!” tegasku lalu berbalik arah meninggalkan dapur. Padahal niatku pingin ngambil minum doang.

“Sibuk apa? Mama denger daritadi di kamar kamu ketawa-ketiwi, ya. Gak usah banyak alesan!”

Aku menghentikan langkah sambil berdecak, “Ya, kan tadi.”

“Cepetan sini! Mama lebih sibuk daripada kamu yang cuma haha hihi doang, ” sindir Mama menusuk membuatku melangkah ke dapur dengan tidak ikhlas.

“Kenapa sih? Cuma nganterin ke rumah depan aja gak mau banget. Kamu kan akhir-akhir ini nebeng sekolah sama abang. Sekalian terima kasih.”

Dari kecil, keluargaku sangat akrab dengan tetangga depan rumah. Aku sudah menganggap pemilik rumah tersebut seperti orang tua kedua, begitupun sebaliknya. Tapi karena perkataan salah satu anaknya beberapa hari yang lalu, rumah itu menjadi tempat yang tak ingin kukunjungi lagi.

Setelah mengambil paper bag, aku berjalan keluar rumah dengan wajah masam.

Kubuka slot pagar rumah tetangga yang tertutup. Mungkin menurut orang tidak sopan, tapi aku sudah sangat sering main kerumah ini. Bahkan letak perabotan rumahnya pun aku ingat.

Sebelum masuk ke dalam rumah, aku mengucap salam terlebih dahulu.

“Assalamu’alaikum. Bunda, Ayah, Adek!” Setelah beberapa detik tidak ada sahutan, aku memilih untuk langsung masuk ke dalam rumah.

“Bun, Bundaa ….” panggilku sekali lagi sambil menoleh kekanan dan kekiri. Tak lama terdengar suara dari arah belakang.

“Yaampun, sayang! Bunda di belakang jadi gak kedengeran. Maaf ya.” aku tersenyum lega lalu berjalan menghampiri Bunda. Tubuhku dipeluk dan rambutku diusap lembut.

“Udah lama kamu gak main kesini, pasti nyariin abang ya?”

“Ha? Eng-enggak! Vanilla mau kasih oleh-oleh dari Papa.” Aku pun mengangsurkan paper bag ke tangan bunda.

Kenapa abang disebut-sebut sih? Kan aku ke sini perlunya gak selalu sama dia.

“Waduh, apa aja ini banyak banget? Bunda jadi gak enak. Kamu hari ini sibuk gak?”

“Emang kenapa, Bun?” tanyaku was-was.

“Kebetulan ada bahan cookies kesukaan kamu, Bunda panggangin dulu. Tunggu disini ya? Bunda panggilin abang biar nemenin kamu.”

Refleks aku melotot dengan mulut menganga. “Eh Bun, gak usah! Bun, aku tunggu sendirian aja gak apa-apa. Buuun …” panggilku berulang kali tapi tak digrubris. Panggilan terakhirku bahkan menjadi teriakan tak bersuara saking putus asanya aku memanggil.

Kukira Bunda special karena kita sehati, ternyata Bunda sama gak pekanya kayak mama.

Pingin langsung kutinggal pulang, tapi gak sopan. Akhirnya aku memilih duduk di sofa ruang tamu dengan kepala yang kutidurkan di lengan sofa.

Telingaku samar-samar mendengar langkah kaki yang mendekat. Dengan kepala yang masih kutidurkan, aku melirik sinis cowok yang sudah berdiri di depanku.

Cowok itu mengelus rambutku. “Ngantuk?” tanyanya. Aku hanya menggeleng. Tatapan mataku yang awalnya sinis berubah melebar.

Sumpah, nih cowok mainnya physical touch! Kan aku jadi bingung nanggepin ucapannya harus gimana?

Cowok itu pun duduk di karpet tepat di depanku. Dengan mata yang menatapku, tangannya masih mengusap lembut rambutku.

Aku mengalihkan pandangan. “Kak Alan, jangan natap gue kayak gitu!”

Ya, sebutan ‘Abang’ yang sedaritadi disebut Mama dan Bunda adalah panggilan rumah dari Kak Alan. Dulu juga aku memanggilnya begitu . Tapi karena di sekolah banyak yang memanggilnya ‘Kak’, aku pun ikut menyesuaikan agar tak menimbulkan banyak perhatian.

Kak Alan tersenyum dengan alis ia naikkan. “Emang kenapa?”

Aku menegakkan tubuh siap berdiri. “Gue pulang, nih!” ancamku.

Kak Alan yang melihat gelagatku akan melangkah pergi langsung menarik pelan lenganku hingga aku kembali duduk. Tidak di sofa, tapi duduk di karpet tepat di sebelahnya .

“Iya-iya, gak. Di sini aja temenin gue nugas sambil tunggu cookies,” pinta Kak Alan, aku pun diam menurut. Ia pun menyalakan laptop yang ia bawa dari kamarnya.

Tiba-tiba dari bawah meja, tangan Kak Alan memegang telapak tanganku dan menggenggamnya. Aku menoleh.

“Tangan lo dingin,” jawabnya dengan tatapan masih ke arah laptop. Tangan satunya ia gunakan untuk mengklik dan menggeser kursor menggunakan mouse.

Karena musim hujan dan di luar masih sedikit gerimis, saat malam hari cuaca berubah menjadi dingin.

“Kak!” panggilku.

Kak Alan menghentikan atensinya ke laptop lalu berpindah menatapku.

“Sebenernya Kak Alan putus sama Kak Farah dari kapan?”

“Udah lama. 3 bulan lebih mau 4 bulan.”

“Tapi yang gue denger baru aja.”

Kak Alan menghela napas lalu mengubah posisi duduknya menghadap kearahku. “Gue udah lama putus sama dia karena kita udah sama-sama punya nama lain. Awalnya kita sepakat untuk putus baik-baik, tapi karena orang yang dia suka ternyata gak sesuai ekspektasi dia. Dia gak terima dan balik gangguin gue yang mau deketin lo. Maaf, gara-gara gue lo yang jadi korban. Emang Farah yang sesuai dengan tipe gue, tapi yang buat gue nyaman bukan dia. Gue serius! Sekarang kalau gue nawarin hubungan lebih dari kenal akrab, lo mau gak?”

Aku menatap manik mata Kak Alan sambil tersenyum mendengar permintaannya. Bukan pacaran, tapi hubungan yang spesial. Aku pun mengangguk.

Kak Alan melotot lalu tersenyum lebar. Ia berdiri lalu melompat-lompat. Tak lama, Bunda datang sambil membawa paper bagku tadi. Kak Alan terdiam, sedangkan aku mengulum bibir menahan tawa.

“Ngapain kamu Bang? Istighfar, hey!”

Bagikan: