Vanilla

Vanilla : 8. Emang Boleh Se-Cemburu itu?

Sorry, kaget ya?” Orang itu berjalan menghampiriku sambil mengulurkan tangannya, mencoba membantuku berdiri.

Aku menerima uluran tersebut sambil menatapnya tajam.

“Kak Alan! Lain kali jangan kayak gitu, gue takut tahu gak?!” omelku, ya siapa yang gak takut coba? Diikuti dari belakang sama orang yang belum tentu kita kenal kan serem banget. Bisa jadi, hari ini terakhir kalinya aku minum jus alpukat. Kan gak adil!

“Iya, maaf. Ada yang sakit gak?” tanganku yang masih Kak Alan genggam ia bolak-balik, mengecek apakah ada luka. Aku diam menatap perbuatannya itu.

Entah perasaanku saja atau bagaimana? Hari ini Kak Alan seperti orang yang berbeda. Bahkan raut wajah yang biasanya tegas dengan mata yang menatap tajam, kali ini berubah menjadi sendu dan hangat.

Aku mengedip-kedipkan mata. Mungkin efek sudah malam, aku jadi berhalusinasi.

“Kenapa?”

“Ha? Oh, eng-enggak, gak kenapa-napa kok.”

Setelahnya kita memutuskan untuk berjalan beriringan menuju rumah. Selama perjalanan, suasana terasa hening. Hanya suara angin berhembus ringan serta hewan malam yang terdengar. Aku mengulum bibirku sambil sesekali melirik kearah Kak Alan. Rasanya canggung banget!

“Tadi Kim kenapa?” celetuk kak Alan.

Aku yang tadinya melamun, sedikit berjingkat meresponnya. Kak Alan tersenyum tipis. Aduh, malu banget!

“Oh, I-itu tadi mukanya Kak Kim lebam. Kebetulan es batu sisa jus gue masih banyak jadinya gue bantu kompresin,” Jelasku singkat.

“Kenapa harus lo yang kompresin?” ketus Kak Alan dengan nada yang berubah datar. Aku mengernyitkan dahi sambil menoleh menatapnya. Apa sih maksud pertanyaannya itu?

“Emang kenapa? Gue cuma bantu karena Kak Kim kesusahan. Gak boleh?” tanyaku balik. Lagian bukannya sudah jelas jawabannya, kenapa harus dipertanyakan.

Gue masih punya hati nurani, ya!

Kak Alan diam dengan wajah linglung. Ia terlihat seperti memikirkan banyak hal. Aku mengedikkan bahu cuek. Tak ingin susah-susah mencari dan memulai topik obrolan dengannya.

“Akhir-akhir ini lo kenapa? Gue ngerasa kalau lo sengaja menghindar dari gue,” ungkapnya.

Aku memutar bola mata. “Dulu juga Kak Alan ngelakuin itu dan gue gak pernah protes,” telakku mulai kesal.

Pingin cepet sampai rumah. Males banget ngobrol sama orang yang baru ketemu udah ngajak ribut.

“Gue lihat lo deket sama Kim. Itu alasannya kan?” seolah tak puas, ia makin menyulut emosiku dengan pertanyaan tak bergunanya.

Aku yang merasa disudutkan, membalasnya, “Gue lihat sebelum libur sekolah Kak Alan duduk bareng kak Farah di kantin. Balikan ya?”

Kak Alan memegang pundakku, lalu menyentak kuat tubuhku agar menghadap kearahnya. “Lo salah paham!” bentaknya.

Aku yang terkejut refleks menggit bibir serta menundukkan kepala, tak berani menatap matanya langsung. Air mata yang semula menggenang di kedua pelupuk mataku pun mulai mengalir saat aku memejamkan mata. Kedua bahuku bergetar lalu disusul suara isakan dari mulutku.

Jujur, aku takut. Kenapa sih dia marah-marah? Bukannya yang harus marah itu aku? Apa dia tahu gimana beratnya aku nahan sindiran dan hinaan? Dibilang ngerebut cowok orang, kegatelan, gak tahu diri. Gimana sakitnya dipermainkan oleh keadaan, apa dia tahu?!

Padahal aku selalu coba buat ngertiin posisi dia, tapi tetap saja aku yang disalahkan.

Kak alan yang bingung dan terkejut saat mengetahui aku menangis, menangkup pipiku, mencoba untuk melihat wajahku. Mulutnya juga terus menggumamkan kata maaf. Aku yang sudah kepalang sakit hati menepis tangannya. Kak Alan kelabakan dengan responku.

Kenapa dia seperti ini? Bukannya jika ia balikan lagi dengan Kak Farah, tugasku hanya kembali seperti awal. Menjauhinya seolah kita 2 orang asing yang tak saling kenal. Itu yang dulu dia inginkan. Kenapa sekarang saat aku menjauhinya lagi dia tak terima?

Kak Alan tak menyerah begitu saja, ia memberanikan diri merangkulku. Aku yang sudah lelah karena gejolak batin yang beberapa hari ini kurasakan pun mendiamkannya. Setidaknya suara kencang dari tangisanku teredam oleh tubuhnya.

“Maaf, gue minta maaf. Gue gak suka lihat lo sama Kim mangkanya tanpa sadar nyakitin lo. Gue minta maaf, dan yang lo omongin tadi gak bener. Lo salah paham. Gue gak balikan sama dia. Jadi jangan jahuin gue lagi ya?” jelasnya panjang lebar yang hanya dapat kutangkap beberapa saja karena otakku terasa kosong.

Setelah tangisanku mulai mereda, aku melepas paksa rangkulannya. Aku menyeka air mata sambil mengatur napasku agar teratur “Je-jelasin! Jelasin apa maksudnya tadi!”

Kak Alan menarik pelan tanganku. “Duduk dulu, jangan berdiri! Tas lo berat.”

Setelah kita berdua duduk, Kak Alan menatap wajahku dengan seksama lalu menghapus sisa air mata dipipiku. “Farah emang duduk di depan gue, alasannya gak ada tempat lagi tapi setelah itu gue pindah tempat kok. Gue juga gak balikan sama dia. Gak akan pernah!”

“Te-terus daritadi Kak Alan nanya petanyaan yang gak guna. Se-sengaja banget mancing emosi gue.”

Sorry, entah kenapa selama gue gak ngelihat lo, banyak pertanyaan muncul dipikiran gue. Rasanya penuh dan sesak. Jadi saat gue ada kesempatan buat ngobrol lagi sama lo, tanpa sadar gue ngeluapin semuanya sampai nyakitin perasaan lo.”

“Tadi Kak Alan juga bilang gak suka kalau gue deket sama kak Kim. Alasannya?”

Kak Alan memalingkan wajahnya sambil memegang tengkuknya. “Entah, apa mungkin gue mulai suka sama lo?” gumamnya pelan.

Bagikan:

Picture of Sinshine

Sinshine

Picture of Sinshine

Sinshine

hi nuria

Hi, I'm Nuria

Website ini memulai perjalanan pada Juli 2021. Berfokus pada rumah, kreativitas, dan gaya hidup.

FYI
Blog ini berisi spanduk iklan berbayar dan beberapa posting berisi tautan afiliasi. Komisi kecil yang kami terima dari sponsor membantu menjaga situs ini tetap berjalan. Setiap posting yang disponsori dicatat dengan tag ‘disponsori’ di bawah judul posting. Namun, kami hanya menautkan ke produk yang sesuai dengan selera pribadi dan estetika kami.