Vanilla

Vanilla : 2. Orang Ketiga?

Sekarang kita berdua sudah berada di depan Ruang Osis. Kak Alan pun mengeluarkan rentengan kunci dari dalam saku celananya. Entahlah, segitu banyak kunci untuk apa saja? Bahkan bentuknya menurutku mirip semua.

Setelah pintu sudah bisa dibuka, Kak Alan mempersilahkanku masuk. Aku terdiam ditengah ruangan, sedangkan Kak Alan berjalan ke arah loker untuk menaruh kameranya. Ia lalu menarik kursi putar yang ada didekat loker, menuju meja dan kursi di pojok ruangan.

“Sini, duduk disini!” suruh Kak Alan sambil menepuk kursi putar tersebut.

Aku menurut, menghampirinya lalu duduk disebelahnya.

Kak Alan menatapku. “Kok lo jadi diem sih, perasaan tadi masih teriak-teriak?”

“Ha?” Otakku seketika nge-lag. Kak Alan menaikkan alisnya, bingung. “Oh,mmh.. i-itu yang tadi, gak apa ditinggal gitu aja?” tanyaku, karena entah kenapa? 80% pikiranku sepertinya masih tertinggal di koridor tadi.

“Emang ada yang ketinggalan?” tanya Kak Alan balik, sambil sibuk dengan laptop dihadapannya. Memang saat akhir semester seperti ini, para anggota osis akan sangat disibukkan dengan banyaknya kegiatan yang akan diselenggarakan oleh sekolah. Entah itu lomba atau pentas seni.

Aku memejamkan mata sambil menggertakkan gigi gemas. “Itu loh, maksud gue kak Farah”

“Emang kenapa? Gue sama dia udah gak ada hubungan”

“Iya, gue udah tahu” jawabku mantap. “Cuma takut aja kalau dia tiba-tiba ngamuk ke gue” celetukku setelahnya dengan suara lirih.

“Emang lo pernah diapain sama Farah?” dengan muka tegas, Kak Alan menatapku tajam.

Aku melotot kaget. Jangan bilang, gue gak sengaja keceplosan .

Aku menoleh kearah Ka Alan yang masih menatapku. Haduh, memang cocotku ini susah kali disinkronisasikan!

“Eng-enggak! Gue cuma berandai-andai aja” sangkalku, dengan senyuman tipis yang kuberikan agar dia percaya.

Wajah Kak Alan berubah datar. “Udah, gak usah dipikirin. Mending lo bantuin gue, nih!” suruhnya tak membahas lebih lanjut.

Kak Alan menggeser laptop didepannya ke hadapanku. Aku yang tak terima, langsung menggesernya kembali . “Apa-apaan nih?”

“Kan lo tadi telat, ya ini hukuman lo!”

Aku berkacak pinggang dengan dagu kunaikkan. “Punya hak apa lo, hah?! Pakai berani nge-hukum gue segala!” tantangku sok berani.

Kak Alan tersenyum sinis. “Ya beranilah, kan gue tinggal bilangin ke bu Berta. Ada saksinya juga, pak Bono”

Aku mengulum bibirku kedalam, nyaliku seketika menciut. Kalau begini, kicep aku sayy…

Bu Berta, guru yang bertugas mendisiplinkan siswa-siswi yang melanggar peraturan sekolah. Sebenernya Bu Berta tuh baik, cuma kalau udah musuhan sama murid nakal, seremnya bisa 11 12 kayak bu Ratna, bisa ikhlas lahir batin jika masalah hukum menghukum.

Aku akhirnya menggeser laptop tersebut kehadapanku. “Yaudah sini, ini terus gue apain?” tanyaku dengan nada suara yang berubah halus. Kak Alan tersenyum puas, kelihatan banget muka tengilnya. Tahu aja dia, cara licik dan benar untuk menyuruhku seenak jidatnya.

Akhirnya selama satu jam, aku dan Kak Alan sibuk di Ruang Osis, dengan Kak Alan yang mendikte, sedangkan aku yang mengetik.

Saat kita berdua sedang serius berdebat masalah penulisan yang sesuai KBBI, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Aku reflek menoleh, sedangkan Kak Alan berdiri, menghampiri pintu yang sengaja ia buka sedikit. Tapi sebelum kak Alan sampai, sebuah kepala muncul dari celah pintu.

“Hehe Lan, ternyata lo disini. Kebetulan banget” seseorang itu pun membuka pintu sedikit lebih lebar.

“ Ngapain nyariin gue?” tanya Kak Alan, masih ditempat ia berhenti tadi.

Aku mengernyit penasaran, entah siapa orang tersebut, karena pandanganku terhalang punggung tegap milik Kak Alan. Akhirnya, aku merendahkan tubuhku sedikit miring kekanan. Dan barulah, muka friendly orang yang kukenal terlihat.

Orang tersebut terkejut menyadari sesuatu muncul dari balik tubuh Kak Alan.

“Anjir! si Vanilla ngagetin gue aja” umpatnya, membuatku tertawa. Kak Alan menoleh kebelakang, menatapku sekilas. Membuatku langsung berhenti tertawa.

“Ada urusan apa lo kesini, Kim?” tanya Kak Alan lagi, menarik atensi Kak Kim yang tertuju padaku.

“Oh ya, nama yang mau partisipasi lomba basket buat besok, bisa diubah gak?”

“Emang kenapa?”

“Gue mau ikut” jawab Kak Kim, tersenyum menampilkan deretan giginya.

Kak Alan berdecak, “Terus volynya?”

“Yaa.. gue tetep ikut” dengan senyumnya itu, Kak Kim seolah mempertegas posisinya saat ini di ekskul Voly ke Kak Alan.

Kak Alan menghela napas pasrah. “Yaudah, nanti gue atur lagi”

Kak Kim tersenyum makin sumringah. Ia menepuk pundak Kak Alan pelan. “Thanks

Setelah mengatakan itu, kak Kim memiringkan sedikit badannya, mencari keberadaanku di belakang punggung Kak Alan. Aku yang masih memperhatikan dan mendengar obrolan mereka, menatap geli posisi Kak Kim.

“Jangan lupa, besok loh!” ingat Kak Kim membuatku mengangguk. Setelahnya Kak Kim keluar dari Ruang Osis.

Kak Alan berjalan menghampiriku. Sambil duduk, dia bertanya, “Lo ada hubungan apa sama Kim?”

Aku menaikkan alis. “hm?” gumamku.

Bagikan:

Picture of Sinshine

Sinshine

Picture of Sinshine

Sinshine

hi nuria

Hi, I'm Nuria

Website ini memulai perjalanan pada Juli 2021. Berfokus pada rumah, kreativitas, dan gaya hidup.

FYI
Blog ini berisi spanduk iklan berbayar dan beberapa posting berisi tautan afiliasi. Komisi kecil yang kami terima dari sponsor membantu menjaga situs ini tetap berjalan. Setiap posting yang disponsori dicatat dengan tag ‘disponsori’ di bawah judul posting. Namun, kami hanya menautkan ke produk yang sesuai dengan selera pribadi dan estetika kami.