Novels / Satu Bangku di Belakang Jendela

SBDBJ Episode 7 – Hukuman di Lapangan

Chapter 7

Kelas XI IPA 2 terkenal karena dua hal.

Pertama, nilai rata-rata mereka termasuk yang tertinggi di angkatan.

Kedua, mereka juga termasuk kelas paling berisik.

Menurut wali kelas mereka, kedua hal itu tidak ada hubungannya.

Menurut guru-guru lain, justru ada.

Dan pagi itu, kelas XI IPA 2 kembali membuktikan kenapa mereka mendapat reputasi tersebut.

Jam pertama kosong.

Guru Matematika sedang rapat mendadak sehingga belum bisa masuk kelas.

Awalnya suasana masih tenang.

Beberapa siswa mengerjakan tugas.

Sebagian membaca buku.

Nada duduk dekat jendela sambil menyelesaikan catatan Biologi.

Di belakangnya, Bayu mulai menunjukkan gejala yang tidak baik.

“Nad.”

“Hm?”

“Kalau misalnya dinosaurus masih hidup…”

Nada langsung tahu percakapan ini akan berakhir aneh.

“…apakah mereka bisa ikut ujian nasional?”

“Aku nggak mau jawab.”

“Kenapa?”

“Karena pertanyaannya nggak waras.”

Bayu terlihat kecewa.

Sementara Wina yang mendengar dari belakang langsung tertawa.

“Dinosaurusnya pasti lebih pintar dari lu.”

“Fitnah.”

Sepuluh menit kemudian suasana mulai berubah kacau.

Beberapa anak cowok bermain lempar penghapus.

Yang lain berpindah tempat duduk.

Bahkan ada yang sibuk membuat turnamen batu-gunting-kertas di pojok kelas.

Dino yang sebagai ketua kelas sebenarnya sudah mencoba mengingatkan.

“Woy, jangan berisik.”

“Iya ketua.”

Lima detik kemudian mereka ribut lagi.

“Woy!”

“Iya ketua.”

Lima detik kemudian ribut lagi.

Nada yang melihat itu hanya bisa menahan tawa.

Kadang ia kasihan juga pada Dino.

Menjadi ketua kelas XI IPA 2 mungkin lebih sulit daripada menjadi ketua OSIS.

Puncaknya terjadi ketika Bayu melempar penghapus ke arah temannya.

Namun lemparan itu meleset.

Penghapus terbang.

Mengenai kipas angin.

Lalu mental ke arah depan kelas.

BRAK!

Seluruh kelas langsung diam.

Karena tepat di saat itu pintu kelas terbuka.

Dan guru Matematika berdiri di sana.

Dengan wajah yang tidak terlihat bahagia.

Hening.

Sangat hening.

Bahkan Bayu terlihat lupa cara bernapas.

Guru Matematika berjalan masuk perlahan.

Matanya menyapu seluruh ruangan.

“Kalian sedang apa?”

Tidak ada yang menjawab.

“Kelas sebelah sampai dengar suara kalian.”

Masih tidak ada yang menjawab.

Karena memang tidak ada jawaban yang bisa memperbaiki keadaan.

Beberapa detik kemudian guru itu menunjuk beberapa siswa.

“Kamu.”

“Kamu.”

“Kamu.”

Bayu langsung pasrah.

Kemudian guru menunjuk Dino.

“Ketua kelas juga.”

“Loh Bu, saya—”

“Keluar.”

Dino langsung diam.

Lalu tiba-tiba guru melihat ke arah belakang.

Ke arah bangku dekat jendela.

Ke arah Nada.

“Kamu juga.”

Nada langsung membeku.

“Hah?”

Seluruh kelas menoleh.

Bahkan Wina terlihat lebih kaget daripada dirinya.

“Tapi Bu…” kata Nada pelan.

“Kamu duduk di kelompok mereka kan?”

Nada ingin menangis.

Secara teknis memang benar.

Bangkunya berdekatan dengan Bayu dan teman-teman cowok yang tadi ribut.

Namun ia sama sekali tidak ikut.

Sayangnya keberuntungan sedang tidak berpihak.

“Keluar.”

Nada akhirnya berdiri pelan.

Lima menit kemudian mereka berdiri berjajar di lapangan sekolah.

Bayu.

Rafi.

Dino.

Dan Nada.

Matahari pagi terasa cukup panas.

Beberapa kelas yang sedang olahraga bahkan bisa melihat mereka dari kejauhan.

Bayu langsung mengeluh.

“Aku menyesal.”

“Kamu baru sadar?” tanya Dino.

“Aku sadar sejak penghapusnya kena kipas.”

Rafi tertawa.

Sedangkan Nada masih belum bisa percaya.

Selama hidupnya…

Ia hampir tidak pernah dihukum guru.

Apalagi berdiri di lapangan seperti ini.

“Aku nggak ngapa-ngapain…”

Nada bergumam pelan.

Dino yang berdiri di sebelahnya menoleh.

“Hm?”

“Aku nggak ikut ribut.”

Dino langsung tertawa kecil.

“Kasihan.”

Nada menatapnya.

“Lucu ya?”

“Sedikit.”

Nada langsung memalingkan wajah.

Namun beberapa detik kemudian ia ikut tersenyum.

Karena memang agak lucu.

Dari semua siswa di kelas…

Bagaimana bisa justru dirinya yang ikut dihukum?

Angin bertiup pelan di lapangan.

Suasana tidak terlalu buruk.

Apalagi setelah beberapa menit berlalu.

Mereka mulai mengobrol untuk menghilangkan bosan.

“Aku yakin ini konspirasi,” kata Bayu.

“Tentang?” tanya Rafi.

“Guru sebenarnya ingin mempertemukan Nada dan Dino.”

Dino langsung menoleh.

“Lu kalau nggak ngomong aneh bisa nggak sih?”

“Nggak.”

“Itu bakat alami.”

Nada menutup wajahnya.

Andai ada cara menghilang sekarang juga, ia pasti langsung melakukannya.

Beberapa menit kemudian terdengar suara teriakan dari lantai dua.

“WOYYYY!”

Nada langsung punya firasat buruk.

Dan benar saja.

Wina berdiri di jendela kelas sambil melambai-lambaikan tangan.

“SEMANGAT YA KALIAN!”

Seluruh lapangan langsung menoleh.

“MATANYA JANGAN SALING PANDANG TERUS!”

Nada hampir mati malu.

Bayu tertawa sampai membungkuk.

Rafi ikut ngakak.

Bahkan Dino sampai menutupi wajahnya sendiri.

“Temen lu emang begitu?” tanyanya.

Nada mengangguk pasrah.

“Sayangnya iya.”

Untungnya hukuman itu tidak berlangsung lama.

Sekitar dua puluh menit kemudian mereka diperbolehkan kembali masuk kelas.

Saat berjalan menuju tangga, Bayu masih tertawa sendiri.

“Aku bakal ceritain ini ke cucu-cucuku.”

“Kamu aja yang punya cucu,” kata Nada.

Dino ikut tertawa.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka satu kelas, percakapan di antara mereka terasa jauh lebih santai.

Tidak lagi secanggung dulu.

Beberapa hari setelah kejadian itu, hubungan mereka mulai berubah sedikit.

Bukan perubahan besar.

Hanya hal-hal kecil.

Kalau dulu mereka berbicara seperlunya, sekarang mereka mulai mengobrol lebih sering.

Kadang tentang tugas.

Kadang tentang guru.

Kadang tentang hal-hal tidak penting.

Seperti saat jam istirahat ketika Dino tiba-tiba bertanya,

“Nada.”

“Hm?”

“Kamu selalu bawa bekal ya?”

Nada mengangguk.

“Ibu bikin.”

“Enak.”

“Mau?”

Dino terlihat kaget.

“Boleh?”

Nada mengangguk lagi.

Lalu menyerahkan satu potong risoles dari kotak bekalnya.

Dino mencobanya.

Kemudian matanya membesar sedikit.

“Enak banget.”

Nada tertawa kecil.

“Itu resep ibu.”

“Titip bilang makasih.”

Momen itu berlangsung tidak sampai lima menit.

Tapi cukup membuat Nada tersenyum sepanjang hari.

Sore harinya, seperti biasa, Nada duduk dekat jendela sambil menunggu ayahnya menjemput.

Langit mulai berubah jingga.

Kelas perlahan sepi.

Dan tanpa sadar ia teringat kejadian hukuman beberapa hari lalu.

Lucu juga.

Kalau ada yang bilang saat MOS dulu bahwa suatu hari ia akan berdiri dihukum bersama Dino di tengah lapangan sekolah…

Ia pasti tidak akan percaya.

Namun sekarang hal itu sudah menjadi kenyataan.

Dan anehnya…

Itu justru menjadi salah satu hari yang paling sering ia ingat.

Karena di antara semua kenangan SMA yang mulai terkumpul perlahan, ada satu hal yang semakin jelas bagi Nada.

Ia tidak hanya menyukai Dino dari jauh lagi.

Ia mulai menyukai setiap percakapan kecil.

Setiap candaan sederhana.

Dan setiap momen yang membuat mereka terasa sedikit lebih dekat dari hari sebelumnya.

Tinggalkan Balasan