“Sumpah, susah banget ngalahin timnya kak Kim,” gerutu Lily dengan muka bete’.
Tanganku mengapit kedua pipi Lily gemas. “Heh! Seharusnya lo itu bersyukur, masih satu tim sama kakak lo. Kalau gak sama kak Bagas, mana ada juara 2 yang tersemat dipikiran lo saat ini,” omelku.
“Iya juga sih, yang penting kan gue bisa ngalahin tim lo di babak semifinal kan ya?” tanyanya dengan muka polos, tapi terlihat songong itu. Sudah jelas jika ia sedang mengolokku.
“Anjir lo Ly! Dapet backingan aja bangga,” balasku yang membuat Lily tertawa.
Pemilihan anggota tim perlombaan bola voli dibebaskan. Pertandingannya pun tidak antar kelas. Hanya saja, setiap kelas harus berpartisipasi dengan menunjuk siswa yang ingin dan bisa bermain voli sebagai perwakilan. Alasannya? Karena mengingat kejadian beberapa tahun lalu, dimana salah satu siswa yang terpaksa mengikuti lomba tanpa tahu teknik, mengalami patah tulang jari.
Oleh sebab itu, dalam satu tim bisa dari kelas manapun. Asalkan dalam satu regu, terdapat pemain utama yang berjumlah 6 orang dan pemain cadangan. Lalu dalam satu tim, tidak diperbolehkan diisi lebih dari 3 anggota ekskul voli. Itulah penyebab Lily bisa satu tim dengan kakaknya.
Awalnya, kak Kim dan kak Bagas memutuskan akan menjadi satu tim, tapi karena protes dari banyak orang, mereka dipisahkan secara paksa, dengan menggunakan Lily sebagai tumbalnya. Sebenarnya, setelah itu kak Kim menawariku menjadi anggota timnya, tapi ku tolak.
Alasannya? Pingin nolak aja.
Dan beberapa menit yang lalu, babak final pertandingan bola voli telah selesai dan tentu saja, pemenangnya adalah tim yang sudah diprediksi dan sudah dipatenkan oleh banyak orang. Siapa lagi kalau bukan timnya kak Kim? Harus kuakui, strategi timnya emang bagus banget, walaupun beberapa bukan anak ekskul voli, tapi pemilihan anggota timnya gak asal-asalan.
“Juara 3 dapet apa?” tanya Lily.
Aku mengedikkan bahu. “Gak tahu, tadi dibawa kakak kelas. Masih belum dibuka. Besok aja gue tagih. Capek, pingin langsung pulaaaang ….” rengekku. Terasa jompo kali tulangku ini. Padahal kepalaku masih ‘satu’.
Akhirnya aku dan Lily berpisah. Aku berbelok ke Ruang OSIS, sedangkan Lily berniat mencari si pembawa hadiahnya. Katanya, dia gak bakalan tenang sebelum hadiah itu ada ditangannya.
Akhirnya aku sampai di depan Ruang OSIS, tapi samar-samar telingaku mendengar percakapan dengan nada yang cukup membuatku bertanya-tanya. Perlahan, aku menarik handle pintu dan membukanya sedikit karena penasaran. Dari celah pintu, aku dapat melihat postur tubuh Kak Alan.
Bingungku, dia ngobrol sama siapa? Apa mungkin lagi latihan teater, perannya disuruh teriak-teriak?
“Alan, apa kita gak bisa balikan lagi?”
Aku melotot, tahu siapa pemilik suara tersebut. Dengan semangat, aku makin menempelkan kupingku dekat celah pintu, berusaha menguping semaksimal mungkin.
Sebenarnya, aku sangat penasaran dengan alasan mereka putus. Banyak yang bilang, di belakang Kak
Alan, Kak Farah diam-diam dekat dengan teman sekelasnya.
Apa kalian masih ingat kak Ferdi? Katanya, Kak Farah dijompa-jampi sama itu anak.
“ Lo udah tahu kan, alasan gue mutusin lo?” tanya Kak Alan dengan muka datarnya.
“Apa!? Karena kamu ngeliat aku sama Ferdi? Seharusnya kamu ngaca dong! Kamu juga deket sama Vanilla!”
Aku mengernyitkan dahi. Lah, kok ngamuk bawa-bawa nama gue sih?
Kak Alan menghela napas. “ Gak usah bawa-bawa nama orang lain seolah itu salah dia. Sekarang gue tanya, apa cari perhatian lebih ke cowok lain, karna gue yang gak sesempurna bayangan cowok impian lo itu gak salah?”
Kak Farah maju sambil memegang tangan kak Alan, membuatku dapat melihat sosoknya dari celah pintu.
“Aku kan udah minta maaf. Aku gak bakalan ngelakuin itu lagi. Aku masih say …” ucapan Kak Farah terhenti karna Kak Alan menepis tangannya.
“Lo boleh sayang sama semua orang, tapi senggaknya lo harus paham, arti sayang lo ke orang itu apa, Far? Jangan jadiin kata sayang sebagai ungkapan perasaan yang buat lo jadi murahan. Gue mohon, Ini yang terakhir, gue gak mau bahas ini lagi.”
Setelah mengatakan itu, Kak Alan meninggalkan Kak Farah yang menangis makin kencang. Aku yang melihat kak Alan menuju pintu keluar seketika gelagapan. Aku menoleh kekanan dan kekiri mencari tempat bersembunyi. Setelah menemukan tempatnya, aku menekuk tubuhku, berusaha mengecilkannya agar tak terlihat.
Terdengar bunyi pintu terbuka dan ditutup, membuatku memejamkan mata takut-takut.
“Heh, Karlota! Cepet berdiri! Mau pulang gak?” mataku seketika terbuka. Kepalaku mendongak. Dengan senyuman, aku menatap Kak Alan yang sudah berdiri di depanku. “Lain kali kalau sembunyi jangan dibalik pot, tas lo masih kelihatan,” sindirnya membuatku refleks memegang tas.
Setelahnya, Kak Alan berjalan meninggalkanku. Aku pun berlari kecil menyusulnya. “Pulang nih kak?” Tanyaku basa-basi. Sambil menggigiti kuku, aku melirik takut-takut kearah Kak Alan. Kayanya dia tahu deh?
“Gimana bahan gosipnya? Seru gak?”
Tuh kan, bener.
Sambil cengengesan, aku menjawab, “Hehe, iya seru, kayak lihat FTV secara live. Minusnya, gak ada cemilan pendamping aja.”
“Hari ini, lo pulang jalan kaki aja ya?”
Aku melotot tak percaya. “AAAAA… iya-iya maaf gak sengaja. Nebeng ya? Lo kan ganteng, baik hati, murah senyum. Kalau lo nebengin gue, gak bakalan kesebar kok, aman. Percaya deh sama gue.”
“Diem, berisik!” dua kata, dan itu membuatku langsung terdiam.

Hi, I'm Nuria
Website ini memulai perjalanan pada Juli 2021. Berfokus pada rumah, kreativitas, dan gaya hidup.
