Vanilla

Aku berlari sekuat tenaga sambil sesekali melihat jam yang ada di pergelangan tangan.

“Sedikit lagi, Van, lo pasti bisa! Semangat!”.

Dari jarak beberapa meter, aku bisa melihat seorang satpam sekolah yang sangat kukenal mulai berjalan kearah gerbang sekolah. Hal itu membuatku makin kelabakan dengan mata melotot.

“Loh, loh, loh, Pak! Tungguin bentar, aku belum masuuuuk..” teriakku, mencoba menambah kecepatan langkahku. Masa bodo’ dengan napas yang udah ngap-ngapan. Bisa ngelewatin gerbang sekolah laknat itu yang paling penting.

Satpam bernama Pak Bono yang melihatku kalang kabut, menghentikan kegiatannya sambil geleng-geleng kepala, seperti hal itu merupakan pemandangan yang lumrah terjadi.

Aku melewati gerbang sambil cengengesan menatap Pak Bono. “ Hehe.. makasih ya, Pak” tak lupa sambil mencoba mengatur napas yang sudah setengah mampus.

Pak Bono menatapku datar. “ Besok diulangi lagi ya?”.

“Oke, Pak. Bakal Vanilla laksanakan!” tegasku, memberikan 2 jempol sambil tersenyum sumringah.

“Ya maksudnya terserah kamu, mau besok telat apa gak? Soalnya gak bakalan Bapak bukain lagi”.

Seketika raut wajahku berubah “Isshh.. Bapak mah, kita kan udah bestie-an 1 tahun” .

“Terus kalau Bapak dipecat, berani kamu ngadep Bu Ratna buat bela Bapak?” tanya Pak Bono membuatku mati kutu.

Tubuhku seketika merinding saat bayangan wajah bulat kepala sekolah dengan alis menukiknya itu sedang berdiri di depanku. Hiii… horror!

Bahkan kenangan satu tahun yang lalu saja masih membuatku trauma. Kenapa sih, aku bisa ketiduran dikelas tepat saat kepala sekolah lagi kunjungan?

Alhasil, aku mendapat omelan tujuh turunan dari bu Ratna. Tak hanya itu, aku juga disuruh berdiri di Lapangan yang panasnya seperti sedang simulasi di akhirat jahanam nanti selama 1 jam.

Pingin nangis, tapi sadar kalau emang salahku sendiri. Ditambah malu juga sih sebenernya, yakali!

“Yaudah deh, besok aku nyampe sini 5 menit lebih awal”.

“Astaghfirullah. Yaa Gusti Nu Agung”.

Akhirnya aku pergi setelah bel kedua berbunyi, yang artinya aku sudah berdiskusi dengan Pak Bono selama 15 menit di dekat Pos Satpam. Cukup lama.

Sambil bersenandung, aku berjalan santai menuju kelas. Sekolahku hari ini sedang mengadakan Class Meeting. Jadi aku bisa bebas bertingkah seblagu ini tanpa khawatir, apakah guru sudah berada dikelas atau belum? Dari jauh saja aku bisa melihat teman sekelasku sedang berheboh ria, di dalam maupun di luar kelas.

Saat di tengah Lapangan, aku menghampiri salah satu kakak kelasku yang sedari tadi berdiri disana. Mungkin sebelum aku sampai di sekolah dia sudah ada disana.

Aku berhenti tepat didepannya, sedikit penasaran dengan yang sedang ia lakukan

“Permisi Kak Al, numpang lewat” ucapku berbasa-basi.

Cowok yang sedari tadi menundukkan kepala, sibuk dengan kamera di tangannya itu sama sekali tak menggubris perkataanku. Akhirnya karena tidak ada respon, aku mengedikkan bahu tak peduli dan berniat pergi dari sana.

Baru saja satu langkah, tasku ditarik kebelakang membuatku terhuyung. Aku yang takut jatuh, langsung meremas lengan seragam Kak Alan. Sebenarnya tarikannya pelan sih, tapi karna aku yang kaget jadinya hilang keseimbangan.

“Astagfirullah, bedosa banget lo, Kak!” ketusku tak terima.

“Gue nariknya pelan padahal”.

“Kenapa sih tarik-tarik tas gue?” aku menarik tasku paksa dari genggaman tangannya. Risih juga karena dia mengangkat tasku keatas. Berasa kucing habis nyolong ikan tauk gak?

“Lo telat kan?”.

“Heshh.. kata mama gak boleh su’udzon”.

“Lah terus, ngapain jam segini masih bawa-bawa tas?”.

Mataku melirik sana-sini berusaha menghindar dari tatapannya. Sumpah dah! Aku tuh gak pinter bohong, bahkan sama cowok didepanku ini. Langsung zonk otakku.

“Ikut gue sini!” tiba-tiba tali tasku ditarik pelan oleh Kak Alan membuatku melotot terkejut.

“Huaaa.. iya-iya gue telat. Tuh, gue udah jujur jadi jangan hukum gue dooong. Isshh, Mamaaa …” teriakku sambil berusaha melepaskan tali tasku. Tapi saat sudah terlepas, aku tidak bisa melarikan diri karena dengan cekatan, Kak Alan langsung meraih pergelangan tanganku.

Banyak pasang mata yang melihat, membuatku menundukkan kepala malu. Wajar bagi Kak Alan, karena dia selalu menjadi pusat perhatian.

“Alan!” panggil seorang cewek, tapi karena Kak Alan yang masa bodoh, dia akhirnya nekat menghadang langkah kami.

Aku melirik ekspresi Kak Alan dari samping, tapi yang kulihat hanya datar. Lalu pandanganku beralih kearah cewek di depanku. Tapi tatapannya malah mengarah kearah genggaman tangan kami. Please, jangan salah paham, Kak!

“Apa maksud kamu?” tanyanya marah kearah Kak Alan, dengan pandangan yang sekarang mengarah padaku tajam. Hii…

“Bukan urusan lo!” setelah itu, Kak Alan melewatinya begitu saja, membawa serta aku yang tak tahu apa-apa.

Farah Raihanah, kakak kelas famous yang kutahu baru saja putus dengan Kak Alan.

hi nuria

Hi, I'm Nuria

Website ini memulai perjalanan pada Juli 2021. Berfokus pada rumah, kreativitas, dan gaya hidup.

No data was found