
Setelah sore hujan di koridor itu, hidup berjalan seperti biasa.
Nada tetap datang pagi bersama ayahnya.
Tetap duduk dekat jendela.
Tetap menghabiskan jam istirahat bersama Wina, Bayu, dan Cipa.
Dan Dino tetap menjadi Dino.
Anak kelas X-2 yang semakin sibuk dengan kegiatan sekolah.
Seharusnya tidak ada yang berubah.
Namun entah kenapa, sekarang Nada mulai lebih sering memperhatikan keberadaan Dino.
Bukan sengaja.
Hanya… matanya sering menemukannya lebih dulu di tengah keramaian.
Hari Senin pagi selalu terasa melelahkan.
Lapangan sekolah penuh siswa yang berbaris untuk upacara.
Matahari belum terlalu tinggi, tapi udara sudah terasa panas.
Di depan barisan, Wina sibuk mengeluh.
“Kalau aku pingsan nanti jangan dibawa ke UKS.”
Cipa langsung menoleh.
“Terus?”
“Bawa ke rumah sakit. Biar dramatis.”
Bayu yang berdiri di belakang mereka langsung menyahut.
“Kalau pingsan jangan lupa bilang aku pewaris tunggal motormu.”
“Motor aku aja nggak punya.”
Nada tertawa kecil.
Tingkah teman-temannya memang tidak pernah normal.
Tak lama kemudian petugas upacara mulai masuk ke lapangan.
Semua siswa otomatis menjadi lebih tenang.
Nada yang awalnya sedang memperhatikan sepatu putihnya perlahan mengangkat kepala.
Dan lagi-lagi ia melihat Dino.
Cowok itu berdiri di barisan petugas upacara.
Seragamnya terlihat rapi.
Dasi lurus.
Topi terpasang sempurna.
Dino memang belum resmi menjadi anggota OSIS, tetapi sudah sering membantu berbagai kegiatan sekolah.
“Wih.”
Wina berbisik dari samping.
“Itu Dino ya?”
Nada pura-pura tidak peduli.
“Hm.”
“Keren juga.”
“Hm.”
“Kalau aku jadi cewek kelas X-1 pasti udah teriak.”
Nada langsung menoleh.
“Kenapa harus X-1?”
“Kan Rere di sana.”
Mereka langsung tertawa kecil.
Benar saja.
Begitu upacara selesai, suara Rere kembali terdengar.
“DINOOOO!”
Setengah lapangan otomatis menoleh.
Rere berlari kecil menghampiri Dino yang baru saja selesai bertugas.
Sedangkan Dino langsung terlihat pasrah.
“Apa lagi?”
“Aku mau ngucapin selamat.”
“Selamat apa?”
“Karena hari ini kamu masih ganteng.”
Teman-teman Dino langsung tertawa.
Sedangkan Dino menutup wajahnya menggunakan topi.
“Astagfirullah.”
Nada yang melihat dari kejauhan tanpa sadar ikut tersenyum.
Lucu.
Karena Dino selalu terlihat lebih canggung saat berhadapan dengan Rere.
Hari-hari berikutnya berlalu tanpa kejadian besar.
Namun Nada mulai menyadari satu hal.
Ia semakin sering mendengar nama Dino.
Di kantin.
Di kelas.
Di perpustakaan.
Bahkan di ruang guru.
“Anak itu sopan ya.”
“Nilainya bagus juga.”
“Katanya mau ikut seleksi OSIS.”
Nama Dino perlahan menjadi salah satu nama yang paling dikenal di angkatan mereka.
Dan anehnya…
Nada tidak keberatan mendengarnya.
Suatu siang, guru Fisika memberi tugas mencari referensi tambahan di perpustakaan.
Bagi sebagian besar siswa, itu mungkin hukuman.
Tapi bagi Nada, itu kabar baik.
Perpustakaan adalah tempat favoritnya.
Ruangan itu selalu tenang.
Tidak terlalu ramai.
Dan tidak memaksanya untuk banyak berbicara.
Nada duduk di salah satu meja dekat rak novel sambil membuka buku catatan.
Tak lama kemudian Bayu datang membawa setumpuk komik.
“Ini perpustakaan sekolah atau rental manga?” tanya Cipa yang baru datang.
“Ilmu itu luas.”
“Yang luas itu halusinasi lu.”
Nada tertawa kecil.
Namun beberapa detik kemudian pintu perpustakaan terbuka.
Beberapa siswa masuk.
Salah satunya Dino.
Nada refleks menoleh.
Cowok itu datang bersama dua temannya sambil membawa buku pelajaran.
Mereka duduk di meja bagian depan.
Cukup jauh.
Tapi masih terlihat jelas dari tempat Nada.
“Eh itu anak OSIS,” bisik Bayu.
“Bukan OSIS, masih calon,” jawab Cipa.
“Calon mantu juga bisa.”
“Diam.”
Nada pura-pura fokus membaca buku.
Padahal ia mendengar semuanya.
Di sela-sela mengerjakan tugas, Nada beberapa kali tanpa sadar melirik ke arah Dino.
Cowok itu sedang berdiskusi dengan temannya.
Kadang tertawa.
Kadang serius membaca buku.
Kadang mencatat sesuatu.
Sederhana.
Tapi cukup membuat Nada memperhatikan lebih lama dari yang seharusnya.
Sampai tiba-tiba…
Dino mengangkat kepala.
Refleks mata mereka bertemu.
Nada langsung menunduk secepat kilat.
Jantungnya berdegup tidak karuan.
“Kenapa?” tanya Wina yang entah sejak kapan muncul di sampingnya.
“Nggak.”
Wina melirik ke arah meja depan.
Lalu tersenyum penuh arti.
“Oh.”
Nada langsung tahu apa yang dipikirkan temannya.
Dan itu membuatnya semakin panik.
Sore harinya sekolah mengadakan kerja bakti persiapan acara lomba antar sekolah.
Seluruh kelas mendapat area masing-masing.
Kelas Nada kebagian taman belakang.
Sedangkan kelas Dino bertugas membersihkan lapangan.
Bayu terlihat menderita.
“Aku dilahirkan untuk hal besar.”
“Lalu?” tanya Cipa.
“Bukan nyabutin rumput.”
“Cabut sana.”
Nada tertawa kecil sambil menyapu daun-daun kering.
Tiba-tiba terdengar suara ribut dari arah lapangan.
“WOY AIRNYA TUMPAH!”
“HAHAHAHA!”
Beberapa siswa langsung menoleh.
Nada ikut melihat.
Ternyata Dino tidak sengaja menjatuhkan ember berisi air saat membantu membersihkan lapangan.
Teman-temannya langsung menertawakan kejadian itu.
Sedangkan Dino hanya berdiri sambil memegang ember kosong dengan wajah pasrah.
Belum selesai sampai di situ.
Rere yang lewat membawa sapu langsung berteriak.
“GAK APA-APA DINO!”
Semua orang langsung diam.
Rere mengangkat kedua tangannya seperti sedang kampanye.
“AIR BISA TUMPAH!”
Dino menutup wajahnya.
“Tapi cintaku tidak akan pernah tumpah!”
Lapangan langsung pecah oleh tawa.
Bahkan guru yang sedang mengawasi kerja bakti ikut tertawa.
Sedangkan Dino terlihat ingin menghilang dari muka bumi.
Nada sampai menunduk karena terlalu banyak tertawa.
Mungkin itu pertama kalinya ia tertawa sebebas itu di sekolah.
Sore mulai turun saat kerja bakti selesai.
Sebagian besar siswa sudah pulang.
Nada kembali ke kelas untuk mengambil buku yang tertinggal.
Ruangan itu hampir kosong.
Angin sore masuk melalui jendela.
Suasana favoritnya.
Saat sedang memasukkan buku ke dalam tas, seseorang lewat di depan kelas.
Nada mendongak.
Dino.
Cowok itu berhenti sesaat.
“Oh.”
Nada ikut berhenti bergerak.
“Belum pulang?”
Nada menggeleng.
“Nunggu ayah.”
Dino mengangguk kecil.
Lalu tersenyum.
“Hati-hati ya.”
Kalimat sederhana.
Sangat sederhana.
Tapi setelah Dino berjalan pergi, Nada masih berdiri beberapa detik di tempat yang sama.
Memikirkan satu hal.
Dulu Dino hanyalah salah satu siswa di angkatan mereka.
Sekarang…
Namanya mulai terasa akrab.
Wajahnya mulai terasa familiar.
Dan tanpa sadar, Nada mulai menantikan hari-hari ketika ia bisa melihatnya lagi.
Meski hanya dari kejauhan.

Hi, I'm Nuria
Website ini memulai perjalanan pada Juli 2021. Berfokus pada rumah, kreativitas, dan gaya hidup.
