Semua terasa biasa saja di sore itu. Aku duduk di meja belajarku, dikelilingi buku-buku tebal, latihan soal Matematika yang tak kunjung selesai, dan secangkir kopi yang sudah dingin.
Ujian Nasional tinggal beberapa minggu lagi. Seharusnya pikiranku hanya dipenuhi rumus, soal, dan rencana masa depan. Tapi hidup sepertinya punya rencana lain untukku.
Pintu kamarku diketuk pelan.
“Alya, turun sebentar, ya,” suara ayah memanggil dari bawah.
Aku menghela napas, menyelipkan pensil di sela buku, lalu beranjak malas.
Biasanya, kalau dipanggil seperti ini, artinya ada tamu keluarga — paling-paling kerabat jauh yang datang numpang lewat. Aku sudah siap dengan senyum sopan dan basa-basi seperlunya.
Tapi begitu menuruni anak tangga, aku langsung tahu ada sesuatu yang berbeda.
Di ruang tamu, duduk seorang pria yang belum pernah kulihat sebelumnya. Umurnya… jauh di atasku, mungkin mendekati tiga puluh. Ia mengenakan kemeja sederhana, celana panjang hitam, dan sepatu bersih. Wajahnya tenang, tapi ada ketegangan samar di matanya. Ia bangkit berdiri saat melihatku, memberi senyum kecil yang ragu.
“Ini Raka,” kata ayahku, sambil menepuk bahu pria itu. “Kenalan, dong.”
Aku membalas senyuman kaku, lalu duduk di sofa seberang, menjaga jarak.
Raka mengangguk sopan.
“Salam kenal, Alya,” katanya, suaranya dalam tapi lembut.
Aku hanya membalas dengan anggukan kecil, bingung harus berkata apa.
Ayah dan Ibu duduk di sisi Raka, tampak santai seolah ini pertemuan biasa. Tapi aku bisa merasakan udara yang tebal di sekeliling kami. Ada sesuatu yang tidak dikatakan di sini — sesuatu yang membuat telapak tanganku berkeringat.
Obrolan berjalan kaku. Ayah sesekali melontarkan pertanyaan basa-basi tentang pelajaran sekolahku, Raka sesekali menjawab tentang pekerjaannya di bidang properti. Aku hanya menjawab secukupnya, merasa seperti sedang dipajang.
Dan baru saat Ayah mulai bicara lebih serius, aku mulai mengerti arah semua ini.
“Raka ini, insya Allah, calon suami kamu, Ly,” katanya, seolah mengabarkan berita gembira.
Dunia seolah berhenti berputar.
Aku menatap ayahku, lalu beralih menatap Ibu yang hanya tersenyum lembut, dan akhirnya kembali ke wajah Raka — pria asing yang bahkan belum kukenal namanya sampai lima menit yang lalu.
“Maaf, Ayah… apa?” tanyaku, berusaha menjaga nada suara tetap sopan.
“Begini, Nak,” Ibu ikut berbicara, “Kita sudah lama kenal keluarganya Raka. Orang baik, mapan, bertanggung jawab. Ayah sama Ibu pikir… ini pilihan terbaik buat masa depan kamu.”
Aku ingin berkata sesuatu. Menolak, mungkin. Atau setidaknya minta waktu untuk berpikir. Tapi mulutku terasa terkunci. Rasanya seperti semua buku pelajaran yang menumpuk di kamarku tadi runtuh menimpa kepala.
Aku baru delapan belas tahun. Aku bahkan belum lulus ujian nasional.
Kenapa tiba-tiba bicara soal menikah?
Aku menundukkan kepala, menatap jemariku sendiri. Kuku-kuku kecil yang tadi sibuk menggenggam pensil sekarang terasa gemetar.
Raka, di sisi lain, tampak tak kalah canggung. Ia tidak mendekat, tidak memaksa.
Hanya diam, seperti memberiku ruang untuk mencerna.
Dalam hati, aku tahu — mungkin dia pun sama terjebaknya denganku.
Pertemuan sore itu berakhir tanpa keputusan.
Setelah Raka pamit, aku kembali ke kamar, tapi tak bisa membuka buku-bukuku lagi. Soal-soal Matematika berubah jadi titik-titik kosong.
Aku berbaring menatap langit-langit kamar, mencoba merangkai ulang kenyataan.
Mereka bilang ini tentang masa depan. Tentang kebaikanku.
Tapi kenapa masa depanku sekarang terasa seperti sesuatu yang bukan milikku?
Malam itu, aku menulis di buku catatanku:
“Seandainya hidup bisa kujalani seperti memilih soal pilihan ganda, mungkin aku bisa memilih ‘tidak satu pun di atas’.”
Tapi hidup, rupanya, tidak pernah sesederhana itu.

Hi, I'm Nuria
Website ini memulai perjalanan pada Juli 2021. Berfokus pada rumah, kreativitas, dan gaya hidup.
