SBDBJ Episode 8 – Tempat Duduk Dekat Jendela
Jika kelas X adalah masa ketika Nada hanya bisa melihat Dino dari kejauhan, maka kelas XI adalah masa ketika semua jarak itu perlahan menghilang.
Bukan karena mereka tiba-tiba menjadi sangat dekat.
Bukan juga karena terjadi sesuatu yang dramatis.
Justru sebaliknya.
Semua terjadi melalui hal-hal kecil yang nyaris tidak disadari.
Percakapan singkat.
Candaan sederhana.
Dan kebiasaan-kebiasaan yang tanpa sengaja terbentuk setiap hari.
Hari-hari di XI IPA 2 mulai terasa nyaman.
Setelah satu semester bersama, hampir semua siswa sudah menemukan posisi masing-masing.
Bayu tetap menjadi sumber keributan.
Wina tetap menjadi sumber gosip.
Cipa tetap menjadi polisi kelas tidak resmi.
Dan Dino tetap menjadi ketua kelas yang sering mengeluh tetapi diam-diam menikmati tugasnya.
Sementara Nada…
Masih duduk di bangku dekat jendela.
Tempat favoritnya.
Tempat yang selalu dipilihnya sejak kelas X.
Pagi itu pelajaran pertama belum dimulai.
Nada sedang membaca catatan Kimia ketika seseorang menarik kursi di depannya.
Ia mendongak.
Dino.
“Pinjem catatan.”
Nada langsung menyerahkan buku tanpa banyak bicara.
Dino membuka halaman demi halaman.
Lalu menghela napas panjang.
“Tulisan kamu rapi banget.”
Nada tersenyum kecil.
“Biasa aja.”
“Biasa dari mana?”
Dino menunjukkan buku catatannya sendiri.
Tulisan di dalamnya terlihat seperti hasil gempa bumi.
Nada tertawa kecil.
“Itu tulisan atau sandi rahasia?”
“Kurang ajar.”
Dino ikut tertawa.
Beberapa teman yang melihat mereka langsung mulai menggoda.
“Cie belajar bareng.”
“Cie pinjem catatan.”
Dino langsung melempar penghapus ke arah mereka.
Sedangkan Nada pura-pura fokus membaca buku lagi.
Padahal pipinya mulai hangat.
Sejak kejadian dihukum bersama di lapangan beberapa bulan lalu, mereka memang menjadi lebih akrab.
Masih dalam batas teman.
Tapi jauh lebih dekat dibanding sebelumnya.
Kadang saat jam kosong, Dino akan duduk di bangku depan Nada.
Kadang saat kerja kelompok mereka otomatis berada dalam tim yang sama.
Kadang mereka mengobrol soal guru-guru yang terkenal galak.
Hal-hal sederhana yang perlahan menjadi bagian dari rutinitas.
Suatu hari guru Biologi membagi kelompok presentasi.
Seisi kelas langsung ribut.
“Aku sama dia!”
“Sini kurang satu!”
“Eh gabung sini!”
Nada yang biasanya selalu terlambat mencari kelompok bahkan belum sempat berdiri ketika guru sudah berkata,
“Kelompok satu, Dino, Nada, Bayu, dan Siska.”
Bayu langsung berdiri.
“Bu, ini nepotisme.”
Guru mengernyit.
“Apa?”
“Kenapa mereka berdua selalu satu kelompok?”
Satu kelas langsung tertawa.
Nada menunduk malu.
Sedangkan Dino hanya menggeleng.
“Bayu, hidup lu kurang kerjaan ya?”
“Betul.”
Kerja kelompok membuat mereka sering pulang lebih sore.
Biasanya mereka berkumpul di perpustakaan atau kelas yang sudah kosong.
Suatu sore, mereka sedang menyelesaikan presentasi tentang sistem saraf manusia.
Bayu sudah menyerah sejak tiga puluh menit lalu.
Ia tidur di atas meja.
Siska sibuk membuat slide.
Sedangkan Dino dan Nada masih menyusun materi.
“Aku lapar.”
Nada menoleh.
Dino sedang memegang perutnya.
“Baru juga makan siang.”
“Itu tiga jam lalu.”
Nada membuka tasnya.
Lalu mengeluarkan sebungkus roti.
“Nih.”
Dino tampak terkejut.
“Kamu selalu bawa makanan ya?”
Nada mengangguk.
“Ibu suka nitip.”
Dino menerima roti itu sambil tersenyum.
“Makasih.”
Momen kecil.
Tapi cukup membuat senyum Nada bertahan sampai perjalanan pulang.
Masa-masa itu berjalan begitu cepat.
Dan tanpa sadar menjadi masa paling indah dalam kehidupan SMA Nada.
Bahkan Wina pernah berkomentar,
“Aku curiga kalian sebenarnya sahabatan.”
Nada hampir tersedak minum.
“Apaan sih.”
“Iya.”
Bayu mengangguk.
“Versi introvert dan extrovert.”
“Dia juga introvert kok.”
“Enggak.”
“Dia cuma sopan.”
Satu meja langsung tertawa.
Hal yang paling disukai Nada sebenarnya bukan kerja kelompok.
Bukan juga saat mereka mengobrol.
Melainkan pagi-pagi saat piket.
Karena saat itu suasana kelas masih sepi.
Belum banyak siswa datang.
Belum ada suara ribut.
Hanya ada suara sapu dan kursi yang digeser.
Suatu pagi mereka sedang piket berdua karena anggota lain datang terlambat.
Dino menghapus papan tulis.
Nada merapikan meja.
Dan entah bagaimana percakapan sederhana muncul begitu saja.
“Kamu anak tunggal ya?”
Nada menoleh.
“Iya.”
“Aku punya adik.”
“Hm.”
“Masih SD.”
Nada mengangguk.
Baru kali itu Dino bercerita tentang keluarganya.
“Dia pengen sekolah di sini juga nanti.”
“Masih lama.”
“Iya sih.”
Dino tertawa kecil.
Nada ikut tersenyum.
Aneh sekali.
Padahal topiknya biasa saja.
Tapi ia selalu senang setiap kali Dino bercerita tentang dirinya.
Beberapa minggu kemudian musim hujan mulai datang.
Sore itu hujan turun deras saat mereka masih berada di kelas.
Sebagian besar siswa sudah pulang.
Hanya beberapa orang yang masih menunggu hujan reda.
Nada duduk dekat jendela sambil memandang air hujan yang membasahi lapangan.
Tempat favoritnya.
Suasana favoritnya.
Dan tanpa disadari seseorang duduk di bangku depan.
Dino.
“Kamu suka hujan ya?”
Nada menoleh.
“Hm?”
“Kamu sering liatin hujan.”
Nada tersenyum kecil.
“Suka aja.”
Dino ikut melihat keluar jendela.
Beberapa detik mereka diam.
Mendengarkan suara hujan yang memukul atap sekolah.
Lalu Dino berkata pelan,
“Kayak waktu pertama kita ngobrol.”
Nada langsung ingat.
Koridor sekolah.
Payung rusak.
Dan hujan deras saat kelas X.
Ternyata Dino masih mengingatnya.
“Aku hampir lupa,” bohong Nada.
Padahal ia mengingatnya sangat jelas.
Dino tertawa kecil.
“Boong.”
Nada hanya tersenyum.
Sebelum pulang hari itu, Dino berdiri dan merapikan tasnya.
Namun sebelum berjalan pergi, ia tiba-tiba berkata,
“Ngomong-ngomong…”
Nada mengangkat kepala.
“Kamu sekarang lebih sering senyum.”
Nada sedikit terdiam.
Ia tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.
Namun mungkin Dino benar.
Karena dibandingkan saat pertama masuk SMA dulu, dirinya memang sudah berubah.
Tidak banyak.
Tapi cukup.
Dan sebagian besar perubahan itu terjadi selama satu tahun terakhir.
Selama masa-masa ketika Dino menjadi bagian dari hari-harinya.
Saat duduk di atas motor ayahnya dalam perjalanan pulang, Nada memandangi langit yang masih mendung.
Angin sore menerpa wajahnya pelan.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa takut.
Takut karena terlalu bahagia.
Takut karena semakin nyaman.
Dan takut karena perasaannya terhadap Dino kini jauh lebih besar dibanding saat pertama kali melihat cowok itu di lapangan sekolah.
Karena semakin dekat seseorang berada di hati kita…
Semakin besar juga kemungkinan untuk terluka nantinya.
