Novels / Satu Bangku di Belakang Jendela

SBDBJ Episode 12 – Satu Bangku yang Tertinggal (SELESAI)

Chapter 12

Dua tahun setelah kelulusan.

Hidup ternyata tidak berjalan seperti novel yang sering dibaca Nada saat masih SMA.

Tidak ada pertemuan dramatis.

Tidak ada pesan tiba-tiba di tengah malam.

Tidak ada seseorang yang datang dan berkata bahwa selama ini ia menyimpan perasaan yang sama.

Kenyataannya jauh lebih sederhana.

Dan jauh lebih sunyi.

Sekarang Nada bekerja di sebuah toko buku kecil di pusat kota.

Toko itu tidak terlalu besar.

Tapi cukup nyaman.

Ada rak-rak kayu yang dipenuhi novel, buku pelajaran, dan majalah.

Ada aroma khas kertas baru yang selalu membuatnya tenang.

Dan ada jendela besar di dekat kasir yang menjadi tempat favoritnya setiap sore.

Tentu saja.

Karena sejak dulu Nada memang selalu menyukai jendela.

Rutinitasnya hampir selalu sama.

Datang pagi.

Merapikan buku.

Melayani pelanggan.

Mencatat stok.

Lalu pulang menjelang malam.

Kadang terasa membosankan.

Tapi ia tidak pernah benar-benar mengeluh.

Ayahnya kini lebih banyak beristirahat di rumah.

Kesehatannya memang tidak sebaik dulu.

Sedangkan ibunya masih mengajar di SD yang sama.

Dan setiap kali menerima gaji, kedua orang tuanya terlihat jauh lebih bahagia daripada dirinya sendiri.

Karena itulah Nada tidak pernah menyesali keputusannya.

Meski sesekali…

Ia bertanya-tanya bagaimana hidupnya jika memilih jalan lain.

Wina sekarang kuliah di kota sebelah.

Bayu sedang berjuang menyelesaikan semester-semester yang katanya “terlalu akademis untuk otaknya”.

Sedangkan Cipa mengambil jurusan pendidikan dan sesekali mengirim pesan panjang berisi keluhan tentang tugas kuliah.

Mereka masih memiliki grup yang sama.

Masih saling mengirim meme.

Masih saling mengejek.

Namun tentu saja tidak sesering dulu.

Karena hidup mulai membawa mereka ke arah masing-masing.

Dan Dino?

Nama itu masih muncul sesekali.

Biasanya dari unggahan media sosial teman-teman SMA.

Foto kegiatan kampus.

Acara organisasi.

Atau sekadar foto bersama teman-teman barunya.

Nada tidak pernah memberi tanda suka.

Tidak pernah mengomentari.

Hanya melihat sekilas.

Lalu menutup aplikasi.

Seolah itu cukup.

Kadang ia merasa lucu.

Karena setelah semua waktu yang berlalu, ternyata perasaannya tidak benar-benar hilang.

Memang tidak lagi sebesar dulu.

Tidak lagi membuatnya sulit tidur.

Tidak lagi membuatnya gugup saat mendengar namanya.

Namun tetap ada.

Tersimpan di sudut kecil hati yang tidak pernah benar-benar ia buka lagi.

Seperti buku lama yang diletakkan rapi di rak paling atas.

Tidak dibuang.

Tapi juga tidak disentuh.

Suatu sore di awal musim hujan, toko buku sedang sepi.

Langit di luar mendung.

Aroma tanah basah mulai masuk melalui celah pintu.

Nada sedang menyusun novel baru di rak ketika suara petir terdengar dari kejauhan.

Beberapa menit kemudian hujan turun.

Deras.

Persis seperti sore ketika ia dan Dino pertama kali mengobrol di koridor sekolah bertahun-tahun lalu.

Nada tersenyum kecil mengingatnya.

Aneh.

Kenapa justru kenangan sederhana seperti itu yang paling sulit dilupakan?

“Mbak Nada, saya pulang dulu ya.”

“Iya hati-hati.”

Setelah rekan kerjanya pulang, toko menjadi semakin sepi.

Hanya ada suara hujan dan musik instrumental pelan dari speaker.

Nada kembali menyusun buku-buku yang baru datang.

Sampai suara lonceng pintu berbunyi.

Ting.

Tanda ada pelanggan masuk.

Tanpa mengangkat kepala, Nada berkata seperti biasa,

“Selamat datang.”

Lalu ia mendengar suara langkah kaki.

Tenang.

Pelan.

Aneh.

Sangat familiar.

Nada mengangkat kepala.

Dan dunia seakan berhenti selama beberapa detik.

Di depan pintu berdiri seseorang dengan payung hitam yang masih basah oleh hujan.

Tinggi.

Kulit putih.

Rambut hitam rapi.

Wajah yang pernah mengisi begitu banyak halaman dalam masa remajanya.

Dino.

Jantung Nada langsung berdegup lebih cepat.

Bukan seperti dulu.

Bukan deg-degan berlebihan seperti saat SMA.

Lebih seperti terkejut.

Karena seseorang yang selama ini hanya hadir dalam kenangan tiba-tiba berdiri beberapa meter di depannya.

Dino tampak sama terkejutnya.

Lalu perlahan ia tersenyum.

Senyum yang sangat dikenali Nada.

“Lama nggak ketemu.”

Nada berkedip beberapa kali.

“Oh.”

Bagus sekali, batinnya.

Dua tahun tidak bertemu dan kata pertama yang keluar tetap “oh”.

Dino tertawa kecil.

Dan entah kenapa, suara tawanya masih sama seperti yang Nada ingat.

“Masih pendiem ternyata.”

Nada akhirnya ikut tertawa.

“Masih.”

“Kerja di sini?”

“Iya.”

Dino melihat sekeliling toko.

“Cocok.”

Nada mengangkat alis.

“Apa yang cocok?”

“Toko buku.”

“Kenapa?”

“Karena tenang.”

Jawaban itu membuat Nada tersenyum.

Ternyata masih sama.

Dino masih sering mengatakan hal sederhana yang entah kenapa sulit dilupakan.

Mereka mengobrol cukup lama.

Tentang kuliah.

Tentang pekerjaan.

Tentang teman-teman lama.

Tentang Bayu yang masih suka membuat teori aneh.

Tentang Wina yang tetap berisik.

Tentang Cipa yang masih suka mengomel.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, jarak dua tahun itu perlahan menghilang.

Hujan di luar belum juga berhenti.

Dino membantu Nada membereskan beberapa buku yang baru datang.

Sama sekali tidak berubah.

Masih suka membantu tanpa diminta.

Masih sama seperti anak SMA yang dulu sering mengangkat meja saat kerja bakti.

Saat sedang menata buku, Dino tiba-tiba berhenti.

Matanya mengarah ke jendela besar di samping toko.

Lalu ia tersenyum kecil.

“Kamu masih suka dekat jendela.”

Nada ikut melihat ke arah sana.

Bangku kecil itu memang menjadi tempat favoritnya setiap sore.

Sama seperti bangku dekat jendela di kelas dulu.

Nada tersenyum.

“Iya.”

Dino mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

Kalimat itu membuat Nada terdiam sesaat.

Karena selama ini ia selalu berpikir bahwa semua kenangan itu hanya hidup di kepalanya sendiri.

Bahwa semua momen kecil yang begitu berharga baginya mungkin sudah lama dilupakan Dino.

Namun ternyata tidak semuanya hilang.

Ada beberapa hal yang ternyata masih diingat.

Hujan perlahan mulai reda.

Langit sore berubah menjadi jingga.

Persis seperti banyak sore yang pernah mereka lalui di SMA.

Dino berdiri sambil mengambil payungnya.

“Kapan-kapan ketemu lagi.”

Bukan pertanyaan.

Bukan basa-basi.

Lebih seperti janji sederhana.

Dan untuk pertama kalinya sejak kelulusan, Nada tidak merasa sedih memikirkan masa lalu.

Karena akhirnya ia mengerti satu hal.

Tidak semua cerita harus berakhir dengan kata “bersama” untuk bisa disebut indah.

Ada cerita yang tugasnya hanya menemani kita tumbuh.

Ada orang yang hadir untuk mengajarkan rasa.

Dan ada kenangan yang tetap hangat meski waktu terus berjalan.

Nada tersenyum saat melihat Dino berjalan keluar menuju trotoar yang masih basah.

Lalu tanpa sadar pandangannya beralih ke jendela.

Ke arah hujan yang mulai berhenti.

Ke arah langit yang perlahan cerah.

Dan ke arah masa depan yang masih panjang.

Karena mungkin…

Cerita mereka belum benar-benar selesai.

Tamat. ❤️

Tinggalkan Balasan