SBDBJ Episode 11 – Hari Kelulusan
Tidak ada yang benar-benar siap menghadapi perpisahan.
Bahkan ketika kita tahu hari itu pasti akan datang.
Bahkan ketika tanggalnya sudah tertulis jelas di kalender.
Tetap saja, saat hari itu benar-benar tiba, rasanya berbeda.
Dan pagi itu, SMA Mandala terasa berbeda.
Langit cerah.
Matahari bersinar hangat.
Namun suasana sekolah dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan.
Ada yang tertawa.
Ada yang sibuk berfoto.
Ada yang menangis bahkan sebelum acara dimulai.
Dan ada juga yang seperti Nada.
Tersenyum.
Tapi diam-diam merasa ada sesuatu yang sedang berakhir.
“NAADAAA!”
Wina datang berlari sambil memeluknya begitu erat.
“Kita lulus!”
Nada hampir kehilangan keseimbangan.
“Iya, Wina.”
“Kita beneran lulus!”
“Masih kalimat yang sama.”
“Karena aku terharu.”
Bayu muncul dari belakang dengan wajah sok sedih.
“Setelah ini aku kehilangan tiga orang yang selama ini menjaga kewarasanku.”
Cipa langsung menatapnya.
“Kamu nggak pernah waras.”
“Itu detail kecil.”
Mereka berempat tertawa.
Seperti biasa.
Seperti tiga tahun terakhir.
Tidak ada yang menyangka geng aneh mereka bisa bertahan selama ini.
Awalnya hanya empat siswa yang sama-sama kesulitan menemukan tempat.
Empat siswa yang merasa sedikit tersisih.
Namun ternyata mereka justru menjadi keluarga kecil selama masa SMA.
Wina yang terlalu berisik.
Bayu yang terlalu random.
Cipa yang terlalu galak.
Dan Nada yang terlalu pendiam.
Empat orang yang aneh.
Tapi cocok.
Acara kelulusan berlangsung sederhana.
Pidato kepala sekolah.
Pembagian penghargaan.
Foto bersama.
Dan berbagai momen yang selalu terlihat biasa saat dijalani.
Padahal suatu hari nanti pasti akan dirindukan.
Nada duduk di kursinya sambil memperhatikan teman-teman satu angkatan.
Banyak wajah yang dulu asing.
Kini terasa akrab.
Banyak cerita yang dulu terasa penting.
Kini tinggal kenangan.
Dan di antara semua wajah itu…
Matanya tanpa sadar mencari satu orang.
Dino.
Cowok itu duduk beberapa baris di depan bersama teman-teman kelasnya.
Masih seperti dulu.
Masih sering tersenyum saat berbicara.
Masih terlihat tenang.
Dan masih menjadi salah satu siswa yang paling dikenal di angkatan mereka.
Beberapa guru bahkan sempat menyebut namanya saat acara berlangsung.
Prestasi akademik.
Kegiatan organisasi.
Dan keberhasilannya diterima di universitas negeri ternama.
Semua orang bangga padanya.
Dan memang pantas.
Dino sudah bekerja keras selama ini.
“Nad.”
Suara Cipa membuyarkan pikirannya.
“Hm?”
“Kamu nggak foto?”
“Nanti.”
“Kalau nanti terus keburu pulang semua.”
Nada akhirnya berdiri.
Mereka berempat mulai berkeliling sekolah mengambil foto.
Di depan gerbang.
Di taman.
Di kantin.
Di lapangan.
Tempat-tempat yang selama tiga tahun menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Saat berada di dekat lapangan, Bayu tiba-tiba tertawa sendiri.
“Kenapa?” tanya Wina.
“Aku inget sesuatu.”
“Apa?”
“Pas Nada sama Dino dihukum berdiri di sini.”
Wina langsung tertawa keras.
“YA AMPUN IYA!”
Nada menutup wajahnya.
“Tolong jangan dibahas.”
“Itu sejarah nasional.”
“Itu memalukan.”
“Justru lucu.”
Cipa yang biasanya paling tenang bahkan ikut tersenyum.
Mereka memang masih mengingat kejadian itu.
Dan mungkin akan terus mengingatnya bertahun-tahun kemudian.
Menjelang siang, suasana sekolah mulai berubah lebih emosional.
Beberapa siswa menangis saat berpamitan dengan guru.
Sebagian sibuk menuliskan pesan di seragam teman-temannya.
Nada ikut menandatangani beberapa seragam.
Menerima tanda tangan.
Dan berusaha mengingat sebanyak mungkin wajah yang ada di sekitarnya.
Karena setelah hari ini, semuanya tidak akan sama lagi.
Di sela-sela keramaian itu, ponsel Nada bergetar.
Pesan dari ibunya.
“Jangan pulang terlalu sore ya.”
Nada tersenyum kecil.
Ia tahu alasannya.
Besok pagi ia sudah harus datang ke sebuah toko buku untuk wawancara kerja.
Bukan orientasi mahasiswa.
Bukan daftar ulang kampus.
Melainkan wawancara kerja.
Dan kenyataan itu terasa begitu nyata sekarang.
Menjelang sore, sebagian besar siswa mulai pulang.
Lapangan yang tadi ramai perlahan sepi.
Koridor mulai lengang.
Dan tanpa sadar, langkah Nada membawanya menuju satu tempat.
Kelas XI IPA 2.
Kelas yang paling banyak menyimpan kenangan.
Pintu kelas terbuka.
Ruangan itu kosong.
Sunyi.
Hanya ada suara kipas angin dan cahaya matahari sore yang masuk melalui jendela.
Nada berjalan perlahan menuju bangku favoritnya.
Bangku dekat jendela.
Lalu duduk.
Sama seperti ratusan kali sebelumnya.
Ia memandang lapangan dari sana.
Dan kenangan mulai berdatangan satu per satu.
Piket pagi.
Kerja kelompok.
Hujan setelah sekolah.
Candaan Wina.
Keluhan Bayu.
Omelan Cipa.
Dan…
Dino.
Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari depan kelas.
Nada menoleh.
Dan melihat orang yang sedang dipikirkannya.
Dino berdiri di ambang pintu.
Membawa tas dan seragam yang sudah penuh tanda tangan.
“Oh.”
Nada tersenyum kecil.
“Oh.”
Dino masuk lalu duduk di bangku depan.
Persis seperti yang sering dilakukannya dulu saat meminjam catatan.
Beberapa detik mereka hanya diam.
Tidak canggung.
Hanya bingung harus memulai dari mana.
“Selamat ya.”
Nada akhirnya membuka suara.
“Hm?”
“Kampusnya.”
Dino tersenyum.
“Oh.”
Ia menggaruk belakang lehernya seperti kebiasaannya saat malu.
“Makasih.”
“Keren.”
“Masih belum percaya sebenarnya.”
Nada mengangguk pelan.
Ia percaya.
Karena ia tahu seberapa keras Dino berusaha selama ini.
Kemudian suasana kembali hening.
Matahari sore perlahan bergerak turun.
Menciptakan bayangan panjang di lantai kelas.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, mereka duduk berdua seperti ini lagi.
Tanpa teman-teman.
Tanpa keramaian.
Hanya mereka.
“Aku nggak jadi kuliah.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Nada.
Mungkin karena ia tahu setelah hari ini kesempatan seperti ini belum tentu datang lagi.
Dino menoleh.
“Hah?”
Nada tersenyum tipis.
“Mau kerja.”
Dino terlihat terkejut.
Beberapa detik ia hanya diam.
Seolah sedang memproses informasi itu.
“Langsung kerja?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Nada memandang keluar jendela.
“Ayah udah pensiun.”
“Terus kondisi kesehatannya juga lagi nggak bagus.”
“Jadi…”
Ia tidak melanjutkan.
Tidak perlu.
Dino sudah mengerti.
Beberapa saat mereka hanya diam.
Lalu Dino berkata pelan,
“Kamu pasti bisa.”
Nada tersenyum kecil.
Kalimat sederhana.
Sangat sederhana.
Namun entah kenapa membuat dadanya terasa sesak.
Karena mungkin itulah terakhir kalinya mereka berbicara seperti ini.
Saat matahari hampir tenggelam, Dino berdiri.
Mengangkat tasnya.
Lalu menatap Nada sebentar.
“Nada.”
“Hm?”
Dino tersenyum kecil.
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
“Udah jadi temen.”
Dan untuk sesaat, waktu terasa berhenti.
Karena Nada tahu.
Mungkin inilah akhir dari masa SMA mereka.
Akhir dari semua kenangan yang selama ini ia simpan.
Dan awal dari jalan hidup yang berbeda.
Sangat berbeda.
Namun meski begitu, ia tetap tersenyum.
Karena beberapa orang memang tidak harus menjadi milik kita untuk tetap berarti.
“Makasih juga, Din.”
Dan untuk pertama kalinya, Nada mengucapkan perpisahan yang tidak pernah benar-benar siap ia katakan.
