Novels / Satu Bangku di Belakang Jendela

SBDBJ Episode 10 – Tahun Terakhir SMA

Chapter 10

Waktu memang aneh.

Saat dijalani, terasa lambat.

Namun ketika menoleh ke belakang, semuanya seperti berlalu dalam sekejap.

Dan kini, tanpa terasa, Nada sudah duduk di bangku kelas XII.

Tahun terakhir SMA.

Tahun yang selalu terlihat jauh saat mereka masih menjadi siswa baru.

Namun sekarang sudah ada tepat di depan mata.

Pembagian kelas membuat semuanya berubah lagi.

Untuk pertama kalinya setelah satu tahun penuh bersama, Nada dan Dino kembali berada di kelas yang berbeda.

Nada masuk XII IPA 3 bersama Wina, Bayu, dan Cipa.

Sedangkan Dino masuk XII IPA 1.

Saat pengumuman kelas ditempel, Wina langsung heboh seperti biasa.

“KITA SATU KELAS LAGI!”

Bayu mengangkat kedua tangan ke udara.

“Persahabatan ini tidak bisa dihentikan negara.”

“Siapa juga yang mau menghentikan?” kata Cipa.

Mereka tertawa bersama.

Namun di tengah keramaian itu, mata Nada tanpa sadar mencari satu nama.

Dan menemukan nama itu di daftar kelas lain.

XII IPA 1 — Dino Alfariz.

Entah kenapa dadanya terasa sedikit kosong.

Padahal sebelum kelas XI mereka juga berbeda kelas.

Tapi sekarang rasanya berbeda.

Mungkin karena ia sudah terbiasa melihat Dino hampir setiap hari selama setahun terakhir.

Hari-hari pertama kelas XII terasa aneh.

Nada kembali menjalani rutinitas seperti saat kelas X.

Masuk kelas.

Belajar.

Istirahat bersama geng anehnya.

Lalu pulang.

Namun ada sesuatu yang hilang.

Tidak ada lagi suara Dino yang tiba-tiba meminjam catatan.

Tidak ada lagi piket bersama.

Tidak ada lagi obrolan singkat sebelum guru masuk.

Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa ternyata menjadi bagian penting dari harinya.

“Masih sedih ya?”

Suara Wina membuat Nada menoleh.

“Hm?”

“Dino beda kelas.”

Nada langsung menghela napas.

“Kenapa sih kamu selalu tahu apa yang aku pikirkan?”

“Karena aku jenius.”

“Kamu terlalu banyak nonton drama.”

“Itu juga benar.”

Bayu yang duduk di depan mereka ikut menoleh.

“Kalau kangen tinggal ke kelasnya.”

Nada langsung melempar penghapus.

“AU!”

Meski berbeda kelas, mereka masih sesekali bertemu.

Di kantin.

Di koridor.

Di perpustakaan.

Atau saat upacara.

Kadang hanya saling mengangguk.

Kadang saling menyapa sebentar.

Namun tidak pernah selama dulu.

Dan semakin jarang bertemu, semakin Nada menyadari satu hal.

Ia merindukan masa kelas XI.

Sementara itu, suasana sekolah mulai berubah.

Topik pembicaraan siswa kelas XII hampir selalu sama.

Kuliah.

Universitas.

Masa depan.

“Kamu daftar mana?”

“UGM.”

“Kalau lolos SNBT sih.”

“Kalau enggak ya nangis.”

Percakapan seperti itu terdengar hampir setiap hari.

Bahkan guru-guru mulai sering bertanya soal rencana setelah lulus.

Dan setiap kali topik itu muncul, Nada selalu menjadi lebih diam.

Suatu malam, ia sedang belajar di kamar ketika mendengar suara batuk ayahnya dari ruang tengah.

Batuk yang akhir-akhir ini semakin sering terdengar.

Nada keluar pelan.

Melihat ibunya sedang menyiapkan segelas air hangat.

Ayahnya duduk di sofa sambil memegang dada.

Wajahnya terlihat lebih lelah dibanding beberapa tahun lalu.

“Ayah nggak apa-apa?”

Ayah langsung tersenyum saat melihatnya.

“Nggak apa-apa.”

Jawaban yang selalu sama.

Namun Nada tahu kenyataannya tidak sesederhana itu.

Usia ayahnya memang sudah tidak muda lagi.

Belakangan ini beliau juga lebih sering kontrol kesehatan.

Dan biaya pengobatan mulai bertambah.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Nada benar-benar memikirkan sesuatu yang selama ini berusaha dihindari.

Mungkin…

Ia tidak bisa kuliah.

Keputusan itu sebenarnya belum final.

Namun perlahan mulai terbentuk dalam pikirannya.

Ibunya masih bekerja sebagai guru SD.

Ayahnya sudah pensiun.

Tabungan keluarga ada, tetapi tidak banyak.

Terlebih jika harus membayar biaya kuliah dan biaya hidup sekaligus.

Semakin dipikirkan, semakin jelas jawabannya.

Ia ingin bekerja setelah lulus.

Setidaknya untuk sementara.

Namun keputusan itu tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Termasuk kepada Dino.

Suatu siang saat istirahat, Nada sedang membeli minuman di kantin ketika seseorang memanggil namanya.

“Nada.”

Ia menoleh.

Dino berdiri beberapa langkah darinya.

Masih sama seperti dulu.

Masih membawa map yang selalu penuh kertas.

Masih terlihat sedikit terburu-buru.

“Oh, hai.”

Dino tersenyum kecil.

“Hai.”

Mereka berjalan ke arah yang sama menuju koridor.

Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara.

Lalu Dino membuka percakapan.

“Gimana kelas baru?”

“Berisik.”

Dino tertawa.

“Masih sama berarti.”

“Iya.”

Hening lagi.

Namun kali ini terasa nyaman.

Seperti dulu.

Lalu Dino bertanya,

“Kamu ikut bimbel sekarang?”

Nada menggeleng.

“Enggak.”

“Kenapa?”

Pertanyaan sederhana.

Tapi membuat langkah Nada melambat.

Ia bisa saja menjawab jujur.

Bisa saja menceritakan semuanya.

Tentang ayahnya.

Tentang kondisi rumah.

Tentang rencananya setelah lulus.

Namun entah kenapa, ia tidak melakukannya.

“Males aja.”

Jawaban itu keluar begitu saja.

Dino mengangguk.

“Oh.”

Tidak ada pertanyaan lanjutan.

Dan entah kenapa, itu membuat hati Nada sedikit kecewa.

Padahal ia sendiri yang memilih menyembunyikan semuanya.

Hari-hari terus berjalan.

Try out.

Ujian praktik.

Bimbingan kampus.

Satu demi satu.

Dan nama Dino mulai semakin sering dibicarakan guru.

“Kalau Dino kemungkinan besar lolos.”

“Nilainya bagus.”

“Persiapannya juga matang.”

Semua orang seolah yakin masa depan Dino akan berjalan baik.

Dan memang seharusnya begitu.

Cowok itu bekerja keras untuk mendapatkannya.

Sore itu Nada duduk sendiri di bangku dekat jendela kelas yang sudah hampir kosong.

Tempat favoritnya sejak dulu.

Angin sore masuk perlahan.

Membawa aroma hujan yang belum turun.

Ia memandang lapangan sekolah yang mulai sepi.

Lalu tanpa sadar teringat semua hal yang pernah terjadi di sana.

MOS.

Upacara.

Kerja bakti.

Hukuman di lapangan.

Dan banyak hal lainnya.

Kenangan yang perlahan akan segera berakhir.

Karena untuk pertama kalinya, Nada benar-benar sadar.

Masa SMA mereka tidak akan berlangsung selamanya.

Dan mungkin…

Perasaan yang selama ini ia simpan juga akan berakhir tanpa pernah sempat diketahui oleh orang yang dituju.

Tinggalkan Balasan