Novels / Satu Bangku di Belakang Jendela

SBDBJ Episode 9 – Rumor dan Salah Paham

Chapter 9

Tidak ada yang lebih berbahaya di lingkungan sekolah selain rumor.

Bukan karena selalu benar.

Justru karena sering kali tidak benar.

Namun tetap menyebar lebih cepat daripada informasi apa pun.

Dan semua kekacauan itu bermula dari seseorang bernama Wina.

Hari itu sebenarnya berjalan biasa saja.

Pelajaran Matematika baru saja selesai.

Guru keluar kelas.

Dan seperti biasa, suasana XI IPA 2 langsung berubah menjadi pasar malam.

Bayu sibuk mengganggu teman-temannya.

Cipa sedang mengerjakan tugas.

Sedangkan Nada berusaha menyelesaikan catatan sebelum jam berikutnya dimulai.

Sampai tiba-tiba Wina muncul di samping mejanya.

Dengan senyum yang tidak bisa dipercaya.

“Nad.”

“Hm?”

Wina melirik ke arah depan kelas.

Ke arah Dino yang sedang berbicara dengan beberapa teman cowoknya.

Lalu kembali menatap Nada.

“Kamu suka Dino ya?”

Nada hampir menjatuhkan pulpennya.

“Apa?!”

Sayangnya…

Suara Nada terlalu keras.

Dan seluruh kelas mendengarnya.

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu…

“WOOOOOY!”

Kelas langsung meledak.

Bayu bahkan sampai berdiri dari kursinya.

“AKHIRNYA!”

“Apaan sih kalian?!”

Nada langsung menutupi wajah dengan buku.

Ia merasa ingin menghilang saat itu juga.

Wina yang menjadi penyebab semua kekacauan malah tertawa tanpa rasa bersalah.

“Ya kan aku cuma nanya.”

“KAMU NANYANYA KERAS!”

“Itu detail kecil.”

“ITU BUKAN DETAIL KECIL!”

Di tengah kekacauan itu, seseorang masuk ke kelas.

Dino.

Ia baru kembali dari ruang guru.

Melihat satu kelas ribut, wajahnya langsung bingung.

“Apaan?”

Bayu tanpa dosa langsung menjawab.

“Nada katanya suka sama lu.”

Dan dunia terasa berhenti.

Dino membeku.

Nada membeku.

Seluruh kelas menunggu reaksi mereka.

Beberapa detik kemudian Dino menghela napas panjang.

“Apaan dah.”

Lalu ia tertawa kecil sambil menggeleng.

Satu kelas kembali ribut.

Namun bagi Nada…

Detik itu terasa jauh lebih lama daripada yang seharusnya.

Karena untuk pertama kalinya, hal yang selama ini hanya ada di dalam kepalanya keluar ke dunia nyata.

Meski dalam bentuk bercandaan.

Meski tidak benar-benar diakui.

Tetap saja rasanya memalukan.

Sejak hari itu, keadaan mulai berubah.

Awalnya hanya sedikit.

Lalu semakin terasa.

Teman-teman kelas mulai sering menggoda mereka.

“Nada, ketua kelas nyari tuh.”

“Cie.”

“Dino, ada yang nungguin.”

“Cie.”

“Nanti piket berdua lagi gak?”

“Cie.”

Nada mulai lelah mendengarnya.

Apalagi setiap kali itu terjadi, wajahnya pasti memerah.

Dan itu justru membuat teman-temannya semakin yakin.

Yang paling parah tentu saja Wina.

Ia tidak pernah melewatkan kesempatan.

Suatu hari saat jam istirahat, Dino datang ke meja Nada untuk meminjam catatan.

Belum sempat membuka mulut, Wina langsung berkata,

“Dino, kamu tahu gak?”

“Apa?”

“Nada tuh—”

“WINA!”

Satu kantin langsung menoleh.

Dino terlihat kaget.

Sedangkan Wina tertawa puas.

“Aku belum ngomong apa-apa.”

“Jangan ngomong.”

“Baik Bu Nada.”

Nada ingin menangis.

Karena kejadian-kejadian itu, Nada mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

Ia menjauh.

Pelan-pelan.

Tanpa disadari siapa pun.

Kalau dulu ia sering mengobrol dengan Dino saat jam kosong, sekarang ia lebih memilih membaca buku.

Kalau dulu mereka sering duduk berdekatan saat kerja kelompok, sekarang Nada memilih duduk sedikit lebih jauh.

Kalau dulu ia menjawab dengan santai, sekarang jawabannya selalu singkat.

“Iya.”

“Enggak.”

“Mungkin.”

Selesai.

Awalnya Dino tidak menyadari perubahan itu.

Ia terlalu sibuk dengan tugas kelas dan kegiatan sekolah.

Namun semakin lama, perbedaan itu mulai terlihat jelas.

Suatu siang setelah pelajaran olahraga, ia menemukan Nada sedang membereskan buku sendirian di kelas.

Sebagian besar siswa masih berada di lapangan.

Kesempatan yang jarang terjadi.

Dino menghampiri bangkunya.

“Nada.”

“Hm?”

“Kamu kenapa?”

Nada berhenti memasukkan buku ke tas.

“Kenapa apa?”

“Kok akhir-akhir ini diem banget.”

Nada tertawa kecil.

Padahal itu bukan tawa yang bahagia.

“Aku memang diem.”

“Bukan.”

Dino menggeleng.

“Kamu beda.”

Nada tidak tahu harus menjawab apa.

Karena sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu.

Ia hanya merasa malu.

Malu karena teman-temannya terus menggoda.

Malu karena takut perasaannya terlihat terlalu jelas.

Dan yang paling ia takutkan…

Bagaimana kalau Dino mulai merasa tidak nyaman?

Bagaimana kalau semua candaan itu membuat Dino menjauh?

“Aku cuma capek.”

Akhirnya itu jawaban yang keluar.

Dino menatapnya beberapa detik.

Seolah mencoba memastikan apakah itu benar.

Lalu ia mengangguk pelan.

“Oh.”

Hanya satu kata.

Tapi entah kenapa membuat hati Nada terasa tidak enak.

Hari-hari berikutnya menjadi sedikit canggung.

Tidak terlalu buruk.

Namun tidak lagi senyaman dulu.

Mereka masih berbicara.

Masih satu kelas.

Masih satu kelompok sesekali.

Tetapi ada sesuatu yang hilang.

Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Keadaan semakin memburuk ketika Rere ikut campur.

Suatu siang, cewek petakilan itu tiba-tiba muncul di depan kelas XI IPA 2.

“Mana Nada?”

Nada yang sedang membaca buku langsung menoleh.

“Hah?”

Rere duduk di bangku depan tanpa izin.

“Aku mau tanya.”

Nada sudah punya firasat buruk.

Dan benar saja.

“Lu suka Dino ya?”

Nada hampir tersedak.

“Kenapa semua orang nanya itu sih?”

Rere tertawa.

“Karena kelihatan.”

Nada langsung diam.

Rere menyandarkan dagunya di meja.

Lalu berkata santai,

“Tenang aja.”

“Apa?”

“Setengah sekolah juga suka Dino.”

Nada tidak tahu apakah harus merasa lega atau justru lebih sedih.

Sebelum pergi, Rere berdiri lalu berkata,

“Tapi satu hal.”

Nada menatapnya.

“Dino itu susah ditebak.”

Lalu Rere pergi begitu saja.

Meninggalkan kalimat yang terus teringat di kepala Nada sepanjang hari.

Dino memang susah ditebak.

Kadang terasa dekat.

Kadang terasa jauh.

Kadang membuatnya merasa spesial.

Kadang membuatnya merasa sama seperti semua orang.

Dan semakin lama…

Nada mulai lelah menebak-nebak sendiri.

Untuk pertama kalinya sejak mereka menjadi dekat di kelas XI, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.

Bagaimana jika semua kenangan indah itu sebenarnya hanya berarti bagi dirinya?

Bagaimana jika bagi Dino…

Semua itu hanyalah pertemanan biasa?

Tinggalkan Balasan