Hari pertama masuk kelas XI terasa jauh lebih menegangkan daripada saat pertama kali masuk SMA.
Setidaknya bagi Nada.
Semalaman ia hampir tidak bisa tidur karena memikirkan pembagian kelas yang baru.
Bukan karena takut pelajaran semakin sulit.
Bukan juga karena takut bertemu guru-guru baru.
Tapi karena satu nama yang muncul di daftar kelasnya.
Dino Alfariz.
Pagi itu SMA Mandala kembali ramai oleh siswa yang mencari ruang kelas baru.
Nada berjalan pelan di koridor lantai dua sambil memegang jadwal pelajaran.
Di depan pintu kelas XI IPA 2 sudah banyak siswa berkumpul.
Beberapa saling menyapa.
Beberapa sibuk memilih tempat duduk.
Dan seperti biasa, Nada langsung menuju bangku dekat jendela.
Tempat favoritnya sejak kelas X.
Tempat yang membuatnya merasa aman.
“NADAAA!”
Wina muncul sambil membawa tas yang entah kenapa terlihat lebih besar dari tubuhnya.
“Kita satu kelas lagi!”
Bayu muncul dari belakang.
“Aku yakin ini takdir.”
“Takdir apaan?” tanya Cipa.
“Takdir kalian bertiga menjaga aku sampai lulus.”
“Enak aja.”
Mereka tertawa bersama.
Untuk sesaat, Nada lupa bahwa ada alasan lain yang membuatnya gugup hari itu.
Sampai suara riuh terdengar dari depan kelas.
Dino masuk.
Beberapa anak langsung menyapanya.
“Din sini!”
“Bro satu kelas lagi kita!”
“Woy ketua OSIS lewat!”
“Bukan ketua OSIS, goblok.”
Dino tertawa kecil sambil menyalami beberapa teman cowoknya.
Lalu saat sedang mencari tempat duduk, matanya tanpa sengaja melihat ke arah belakang kelas.
Ke arah bangku dekat jendela.
Ke arah Nada.
“Oh.”
Nada langsung menunduk pura-pura membuka buku.
“Hi, Nada.”
Nada mengangkat kepala pelan.
“Hai.”
Dino tersenyum kecil lalu berjalan ke bangkunya.
Sederhana.
Tapi cukup membuat jantung Nada berdetak lebih cepat selama beberapa menit berikutnya.
Minggu pertama kelas XI berjalan cukup sibuk.
Pelajaran semakin sulit.
Tugas semakin banyak.
Dan wali kelas baru mereka ternyata terkenal disiplin.
Namun ada satu hal yang tidak terlalu mengejutkan siapa pun.
Pemilihan ketua kelas.
“Siapa yang mau jadi ketua kelas?”
Kelas langsung hening.
Beberapa siswa pura-pura sibuk melihat meja.
Beberapa lagi menunduk.
Lalu satu suara terdengar.
“Dino aja, Bu.”
“Iya Dino.”
“Setuju.”
“Dino aja.”
Dalam waktu kurang dari satu menit, hampir seluruh kelas sepakat.
Dino yang duduk di depan langsung mengangkat kedua tangannya.
“Loh kok gue?”
“Karena lu rajin.”
“Karena lu pintar.”
“Karena muka lu ketua kelas banget.”
Satu kelas tertawa.
Akhirnya Dino resmi menjadi ketua kelas XI IPA 2.
Dan sejak hari itu, ia mulai lebih sering berinteraksi dengan semua teman sekelasnya.
Termasuk Nada.
Awalnya hanya hal-hal kecil.
“Nada, udah ngumpulin tugas?”
“Udah.”
“Nada, absen hari ini lengkap nggak?”
“Lengkap.”
“Nada, pinjem penggaris dong.”
“Iya.”
Percakapan mereka sederhana sekali.
Bahkan mungkin tidak layak disebut percakapan.
Tapi bagi Nada, itu sudah jauh berbeda dibanding saat mereka masih berbeda kelas.
Sekarang mereka bertemu setiap hari.
Mendengar suara satu sama lain hampir setiap pagi.
Dan tanpa sadar, rasa canggung mulai berkurang sedikit demi sedikit.
Suatu pagi, jadwal piket kelas ditempel di papan pengumuman.
Siswa langsung berebut melihat.
Bayu yang membaca paling awal langsung berteriak.
“WOYYYY!”
Semua menoleh.
“Ada apa?”
Bayu menunjuk daftar itu dengan ekspresi dramatis.
“Ini sinetron.”
Wina langsung maju melihat.
Lalu beberapa detik kemudian ikut berteriak.
“ANJIR.”
Nada yang penasaran akhirnya ikut mendekat.
Dan langsung membeku.
Hari Senin.
Kelompok piket:
- Dino
- Nada
- Bayu
- Siska
“Kenapa heboh sih?” tanya Nada.
Wina langsung menatapnya seperti melihat tokoh utama drama Korea.
“Semesta bekerja keras.”
“Apaan sih.”
Hari Senin datang lebih cepat dari yang diinginkan Nada.
Saat ia masuk kelas pagi-pagi sekali, ternyata sudah ada seseorang yang sedang menyapu lantai.
Dino.
Cowok itu memakai seragam olahraga karena hari itu ada pelajaran PJOK.
Melihat Nada datang, ia mengangkat sapu.
“Selamat pagi.”
Nada tersenyum kecil.
“Pagi.”
Bayu yang seharusnya piket bersama mereka belum datang.
Siska juga belum terlihat.
Akibatnya mereka hanya berdua selama beberapa menit.
Dan itu cukup membuat Nada salah tingkah.
Dino ternyata jauh lebih santai dibanding yang ia bayangkan.
“Boleh minta lap?”
Nada menyerahkan lap meja.
“Makasih.”
Beberapa menit kemudian.
“Sapunya di mana?”
Nada menunjuk sudut kelas.
“Lagi dipakai.”
“Oh iya.”
Lalu beberapa menit kemudian lagi.
“Eh.”
“Hm?”
“Kamu datang pagi terus ya.”
Nada sedikit terkejut.
“Iya.”
“Rajin.”
“Bukan.”
“Lalu?”
Nada berpikir sebentar.
“Ayah selalu berangkat pagi.”
Dino mengangguk pelan.
“Oh.”
Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Tapi entah kenapa Nada merasa nyaman.
Dino tidak pernah memaksa orang bercerita.
Semakin lama, Nada mulai mengenal sisi lain Dino yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Dino ternyata tidak sesempurna yang terlihat dari luar.
Ia kadang lupa membawa buku.
Kadang salah menulis jadwal.
Kadang panik saat tugas menumpuk.
Bahkan suatu hari ia salah masuk kelas setelah jam istirahat.
Satu kelas langsung menertawakannya.
“Ketua kelas gagal navigasi!”
“Diam.”
Dino hanya tertawa malu.
Dan justru hal-hal seperti itu membuatnya terasa lebih manusiawi.
Lebih dekat.
Suatu siang saat jam kosong, Wina tiba-tiba berdiri di depan kelas.
“Aku punya pertanyaan penting.”
Semua langsung mengeluh.
“Apalagi?”
Wina menunjuk Dino.
“Lalu menunjuk Nada.”
Jantung Nada langsung tidak enak.
“Menurut kalian…”
“Jangan,” bisik Nada.
“…mereka cocok nggak?”
Satu kelas langsung meledak.
“WOYYYY!”
“Setuju!”
“Enggak lah!”
Bayu bahkan hampir jatuh dari kursinya karena tertawa.
Sedangkan Nada langsung menutupi wajah dengan buku.
Malu setengah mati.
Di sisi lain, Dino yang sedang minum justru tersedak.
“BATUK! BATUK!”
“Anjir.”
Satu kelas semakin ramai.
Dino menatap Wina dengan wajah pasrah.
“Lu random banget sumpah.”
Wina tertawa puas.
Sedangkan Nada berharap lantai kelas terbuka dan menelannya hidup-hidup.
Hari itu pulang sekolah, Nada duduk sendiri dekat jendela sambil menunggu ayahnya datang.
Suasana kelas mulai sepi.
Angin sore masuk perlahan.
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk SMA…
Ia merasa bahagia datang ke sekolah.
Bukan karena nilai.
Bukan karena pelajaran.
Melainkan karena hal-hal kecil yang terjadi setiap hari.
Obrolan sederhana.
Piket pagi.
Candaan teman-teman.
Dan seseorang yang kini tidak lagi berdiri jauh di lapangan sekolah.
Melainkan duduk di kelas yang sama dengannya.
Untuk pertama kalinya, Dino bukan lagi sekadar sosok yang ia lihat dari kejauhan.
Kini ia telah menjadi bagian dari hari-hari Nada.

Hi, I'm Nuria
Website ini memulai perjalanan pada Juli 2021. Berfokus pada rumah, kreativitas, dan gaya hidup.
