
Semester pertama hampir berakhir ketika seluruh SMA Mandala mulai sibuk membicarakan satu hal.
Festival sekolah.
Acara tahunan yang selalu ditunggu semua siswa.
Bahkan guru-guru ikut terlihat lebih santai saat membahasnya.
Bagi sebagian siswa, festival sekolah adalah kesempatan untuk bersenang-senang.
Bagi yang lain, itu kesempatan untuk dekat dengan gebetan.
Sedangkan bagi Nada?
Awalnya ia menganggap festival hanyalah acara sekolah biasa.
Sampai akhirnya semuanya berubah.
“Kelas kita mau bikin apa?”
Pertanyaan itu langsung membuat kelas X-4 ribut.
Wali kelas baru saja mengumumkan bahwa setiap kelas harus membuka stand sendiri saat festival nanti.
Ide langsung bermunculan dari segala arah.
“Rumah hantu!”
“Terlalu mahal.”
“Kafe!”
“Kita gak bisa masak.”
“Wahana lemp*r guru!”
“Itu bunuh dir* namanya.”
Nada hanya mendengarkan dari bangkunya dekat jendela.
Seperti biasa.
Sampai akhirnya kelas memutuskan membuat stand permainan tradisional.
Keputusan yang membuat Bayu terlihat sangat kecewa.
“Aku sudah menyiapkan konsep rumah hantu.”
“Sejak kapan?” tanya Cipa.
“Tiga menit lalu.”
Wina langsung tertawa sampai hampir jatuh dari kursinya.
Persiapan festival berlangsung selama hampir dua minggu.
Setiap pulang sekolah, siswa diminta membantu dekorasi kelas masing-masing.
Koridor yang biasanya sepi sore hari kini dipenuhi siswa yang membawa cat, karton, kain, dan berbagai perlengkapan lainnya.
Suasana sekolah terasa hidup.
Dan tentu saja…
Nama Dino semakin sering terdengar.
“Din, bantu angkat ini!”
“Dino, rapat aula sekarang!”
“Dino, Pak Arif nyari!”
Kadang Nada merasa Dino muncul di hampir setiap sudut sekolah.
Cowok itu memang resmi menjadi anggota OSIS beberapa bulan lalu.
Sejak saat itu jadwalnya semakin padat.
Bahkan Wina sampai berkomentar saat melihat Dino berlari menuju aula.
“Aku yakin dia punya kembaran.”
“Kenapa?” tanya Bayu.
“Pagi di lapangan.”
“Siang di aula.”
“Sore di mading.”
“Besok muncul di Mars.”
Nada tertawa kecil.
Meski dalam hati ia diam-diam setuju.
Suatu sore kelas Nada sedang mengecat dekorasi stand.
Wina sibuk menggambar tulisan.
Bayu malah mencoret-coret karton dengan karakter anime.
Sedangkan Cipa mengomel karena pekerjaan mereka tidak selesai-selesai.
Nada sedang memotong kertas warna ketika tanpa sengaja melihat ke arah aula.
Dari kejauhan, Dino terlihat sedang berbicara dengan seorang cewek.
Nada awalnya tidak terlalu memperhatikan.
Sampai Wina tiba-tiba menyenggol lengannya.
“Itu Keira ya?”
“Hm?”
“Ketua acara festival.”
Nada kembali melihat.
Cewek itu memang cukup terkenal.
Namanya Keira.
Kelas XI.
Cantik.
Pintar.
Dan termasuk salah satu siswa favorit guru.
Ia sedang berdiri berdampingan dengan Dino sambil melihat beberapa lembar dokumen.
Sesekali mereka tertawa membahas sesuatu.
Terlihat akrab.
Sangat akrab.
“Katanya mereka sering kerja bareng,” kata salah satu teman kelas yang lewat.
“Cocok sih.”
“Iya.”
Nada langsung kembali fokus pada gunting di tangannya.
Namun entah kenapa…
Ada rasa aneh yang muncul.
Perasaan yang tidak nyaman.
Dan ia tidak suka mengakuinya.
Malam sebelum festival, grup kelas ramai luar biasa.
Semua orang sibuk membahas dekorasi terakhir.
Sementara Nada sedang membantu ibunya membereskan ruang tamu.
“Nanti festival sekolah ya?” tanya ibunya.
“Iya.”
“Datang pagi?”
Nada mengangguk.
Ibunya tersenyum kecil.
“Masa SMA cepat berlalu lho.”
Nada hanya tersenyum.
Saat itu ia belum benar-benar mengerti maksud kalimat tersebut.
Hari festival akhirnya tiba.
Sejak pagi sekolah sudah berubah total.
Lapangan dipenuhi stand.
Aula dihias lampu-lampu.
Musik terdengar dari berbagai arah.
Siswa datang dengan wajah antusias.
Termasuk Nada.
Meski sebenarnya ia lebih sering membantu menjaga stand dibanding menikmati acara.
Menjelang sore, suasana semakin ramai.
Banyak alumni datang.
Banyak siswa dari sekolah lain berkunjung.
Dan untuk pertama kalinya, Nada merasa sekolah mereka terlihat sangat indah.
“Na.”
Wina muncul tiba-tiba.
“Apa?”
“Ke aula.”
“Kenapa?”
“Dino jadi MC.”
Nada hampir tersedak minum.
“Aku gak nanya Dino.”
“Tapi aku jawab Dino.”
“Dasar.”
Meski begitu, beberapa menit kemudian Nada tetap ikut ke aula bersama teman-temannya.
Aula penuh sesak.
Lampu panggung menyala terang.
Suara penonton memenuhi ruangan.
Dan di tengah panggung berdiri dua orang MC.
Keira.
Dan Dino.
Nada langsung diam.
Mereka terlihat cocok berdampingan.
Sama-sama tinggi.
Sama-sama percaya diri.
Sama-sama aktif.
“Selamat malam semuanya!”
Suara Dino langsung disambut sorakan siswa.
Bahkan Rere yang duduk di barisan depan sampai berdiri.
“DINOOOO AKU DI SINI!”
Seluruh aula tertawa.
Dino hanya menutup wajah sebentar sebelum melanjutkan acara.
Nada ikut tersenyum kecil.
Pemandangan itu sudah terlalu sering terjadi.
Sepanjang acara, mata Nada beberapa kali kembali ke arah panggung.
Bukan karena penampilannya membosankan.
Justru sebaliknya.
Dino terlihat sangat berbeda malam itu.
Lebih percaya diri.
Lebih dewasa.
Dan entah kenapa terasa sangat jauh.
Seolah ia sedang melihat seseorang yang berada di dunia berbeda.
Di dunia yang tidak mungkin bisa ia masuki.
Keira berdiri di sampingnya.
Mereka saling melengkapi kalimat.
Saling bercanda saat acara berlangsung.
Dan terlihat sangat nyaman bersama.
Perasaan aneh itu kembali muncul di dada Nada.
Lebih jelas dari sebelumnya.
Saat acara hampir selesai, Wina tiba-tiba duduk di sebelah Nada.
“Kamu kenapa?”
Nada menoleh.
“Kenapa apa?”
“Kok murung?”
“Enggak.”
Wina menyipitkan mata.
Lalu melihat ke arah panggung.
Kemudian kembali melihat Nada.
“Oh.”
Nada langsung tahu apa yang dipikirkan temannya.
“Jangan mulai.”
Wina tertawa kecil.
“Aku gak ngomong apa-apa.”
“Tapi mukamu ngomong.”
“Maaf ya.”
Malam semakin larut.
Festival akhirnya berakhir.
Siswa mulai membereskan stand masing-masing.
Lampu-lampu mulai dimatikan satu per satu.
Saat berjalan menuju gerbang sekolah bersama geng anehnya, Nada menoleh ke belakang.
Dari kejauhan, ia masih bisa melihat Dino membantu panitia membereskan panggung.
Masih sibuk.
Masih dikelilingi banyak orang.
Masih terlihat jauh.
Dan untuk pertama kalinya, Nada mengakui sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan.
Ia menyukai Dino.
Bukan sekadar penasaran.
Bukan sekadar kagum.
Tapi benar-benar menyukainya.
Masalahnya…
Dino bahkan mungkin tidak pernah memikirkan dirinya.
Dua minggu setelah festival selesai, pengumuman pembagian kelas baru ditempel di depan ruang guru.
Seluruh koridor langsung dipenuhi siswa.
Teriakan terdengar di mana-mana.
“Aku masuk IPA!”
“Kita pisah!”
“WOY SATU KELAS LAGI!”
Wina yang melihat daftar lebih dulu tiba-tiba berteriak.
“NADAAAA!”
Nada berjalan mendekat.
“Apa?”
Wina menunjuk daftar nama dengan wajah tidak percaya.
“Kamu lihat sendiri.”
Nada mengikuti arah jarinya.
Matanya langsung berhenti pada satu baris.
XI IPA 2 — Nada Aulia.
Lalu beberapa nama di bawahnya.
XI IPA 2 — Wina Prameswari.
XI IPA 2 — Bayu Nugraha.
XI IPA 2 — Cipa Ramadhani.
Dan…
XI IPA 2 — Dino Alfariz.
Nada membeku.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Karena untuk pertama kalinya sejak masuk SMA…
Mereka akan berada di kelas yang sama.

Hi, I'm Nuria
Website ini memulai perjalanan pada Juli 2021. Berfokus pada rumah, kreativitas, dan gaya hidup.
