
Bulan pertama SMA akhirnya berlalu.
Nada mulai mengenal ritme kehidupan di SMA Mandala.
Bangun pagi.
Berangkat bersama ayah.
Belajar.
Mengobrol dengan geng anehnya.
Lalu pulang dan mengulang semuanya lagi keesokan hari.
Tidak ada hal besar yang terjadi.
Tapi bagi Nada, itu sudah cukup.
Setidaknya sekarang ia tidak lagi merasa sepenuhnya sendirian.
Hari Jumat sore biasanya menjadi hari favorit Nada.
Pelajaran lebih sedikit.
Suasana sekolah lebih santai.
Dan langit sore sering terlihat lebih indah dari jendela kelas.
Hari itu juga sama.
Atau setidaknya begitulah awalnya.
Saat bel pulang berbunyi, sebagian besar siswa langsung berhamburan keluar kelas.
Wina pergi lebih dulu karena harus menghadiri acara keluarga.
Bayu kabur ke warnet bersama teman-temannya.
Sedangkan Cipa pulang cepat karena harus membantu ibunya di rumah.
“Nad, pulang hati-hati ya,” kata Cipa sebelum pergi.
Nada mengangguk kecil.
“Iya.”
Beberapa menit kemudian kelas mulai kosong.
Nada membereskan buku-bukunya perlahan.
Ia memang selalu menjadi salah satu murid terakhir yang meninggalkan kelas.
Bukan karena rajin.
Hanya karena ayahnya biasanya menjemput sekitar setengah jam setelah jam pulang.
Namun ketika ia melihat keluar jendela, langit sudah berubah gelap.
Awan hitam menggantung rendah.
Angin sore bertiup lebih kencang dari biasanya.
Dan beberapa detik kemudian—
BRUKKK!
Suara petir menggema.
Disusul hujan deras yang langsung mengguyur halaman sekolah.
“Yah…”
Nada menatap payung lipat kecil di dalam tasnya.
Payung itu sebenarnya sudah rusak sejak beberapa minggu lalu.
Salah satu besinya patah.
Kalau dipakai saat hujan deras, hasilnya sama saja seperti tidak memakai payung.
Nada menghela napas pelan.
Sepertinya ia harus menunggu lebih lama.
Koridor sekolah mulai dipenuhi siswa yang tertahan hujan.
Beberapa mengeluh.
Beberapa sibuk bermain ponsel.
Beberapa lagi tertawa sambil berlari menerobos hujan.
Nada memilih duduk di bangku panjang dekat koridor lantai satu.
Tempat itu cukup sepi.
Ia menyukai suara hujan.
Sejak kecil memang begitu.
Menurutnya hujan membuat dunia terasa lebih tenang.
Suara kendaraan berkurang.
Orang-orang bicara lebih pelan.
Dan semuanya terasa melambat.
Nada memandang air yang jatuh dari atap sekolah sambil memeluk tasnya.
Sampai suara langkah kaki mendekat.
Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan.
Namun langkah itu berhenti tidak jauh darinya.
“Nunggu hujan reda?”
Nada menoleh.
Lalu langsung membeku.
Dino.
Cowok itu berdiri beberapa langkah darinya sambil membawa map hitam di tangan.
Rambut bagian depannya sedikit berantakan karena terkena percikan hujan.
Nada langsung gugup.
“Eh…”
Pintar sekali jawabannya, batinnya.
Dino tampaknya tidak menyadari kepanikan yang sedang terjadi di kepala Nada.
Ia ikut bersandar di tiang koridor sambil melihat hujan.
“Deres banget.”
Nada mengangguk.
“Iya.”
Lalu hening.
Sangat hening.
Bagi Nada, keheningan itu terasa seperti satu jam.
Padahal mungkin baru beberapa detik.
Ia bingung harus mengatakan apa.
Dan sepertinya Dino juga tidak terlalu pandai memulai percakapan.
Terutama dengan cewek.
Dino melirik payung di samping Nada.
“Payung?”
Nada mengikuti arah pandangannya.
“Oh ini…”
Ia mengangkat payung lipat kecil itu.
“Rusak.”
Dino tertawa kecil.
“Kasihan amat.”
Nada ikut tersenyum tipis.
“Udah tua.”
“Payungnya atau yang punya?”
Nada langsung melotot kecil.
Dino terlihat kaget sendiri.
Lalu tertawa.
“Eh bercanda.”
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Nada merasa sedikit lebih santai.
Ternyata Dino tidak seseram yang ia bayangkan.
Mereka kembali memperhatikan hujan.
Beberapa siswa mulai pulang dijemput orang tua.
Beberapa guru berjalan menuju parkiran sambil membawa payung besar.
Suasana sore itu terasa damai.
“Aku sering lihat kamu di perpustakaan.”
Kalimat itu membuat Nada menoleh.
“Hah?”
Dino menggaruk belakang lehernya sedikit.
“Kamu kan sering di sana.”
Nada agak terkejut.
Ia tidak menyangka Dino memperhatikan hal seperti itu.
“Iya…”
“Suka baca buku?”
“Novel.”
“Oh.”
Dino mengangguk pelan.
Lalu kembali diam.
Nada mulai sadar bahwa cowok ini memang sedikit canggung.
Bukan hanya dirinya.
Dino juga terlihat kesulitan menjaga percakapan tetap berjalan.
Dan anehnya…
Hal itu justru membuat Nada lebih nyaman.
Tak lama kemudian ponsel Nada bergetar.
Pesan dari ayahnya.
“Ayah masih di jalan. Hujan macet.”
Nada langsung membalas cepat.
“Iya Yah. Aku nunggu.”
Saat sedang mengetik, Dino melirik sekilas.
“Jemputan?”
Nada mengangguk.
“Ayah.”
“Baik ya.”
Nada tersenyum kecil.
“Iya.”
Sebenarnya ia ingin bercerita bahwa ayahnya memang selalu menjemputnya.
Bahwa usia ayahnya sudah cukup tua dibanding ayah teman-teman lain.
Bahwa ibunya masih mengajar sampai sore di SD.
Namun tentu saja ia tidak mungkin menceritakan semua itu pada Dino.
Mereka bahkan belum benar-benar berteman.
Hujan perlahan mulai mengecil.
Suasana koridor juga semakin sepi.
Tinggal beberapa siswa yang masih menunggu dijemput.
Dino melihat jam tangannya.
“Kayaknya aku duluan.”
Nada mengangguk pelan.
“Oh.”
Cowok itu merapikan tasnya lalu berdiri.
Namun sebelum pergi, ia menoleh kembali.
“Eh.”
Nada mengangkat kepala.
“Nama kamu Nada kan?”
Jantung Nada langsung berdegup sedikit lebih cepat.
“Iya.”
Dino tersenyum kecil.
“Aku Dino.”
Nada hampir tertawa.
Tentu saja ia tahu.
Seluruh sekolah juga tahu.
Tapi ia hanya mengangguk.
“Iya.”
Dino tampak tidak sadar betapa lucunya perkenalan itu.
Ia mengangkat tangan kecil sebagai salam.
“Duluan ya.”
“Hati-hati.”
“Nah, bisa ngomong panjang ternyata.”
Nada langsung malu sendiri.
Sedangkan Dino hanya tertawa kecil sebelum berjalan menjauh menuju parkiran.
Beberapa menit setelah Dino pergi, ayah Nada akhirnya datang.
Motor tua milik ayah berhenti di depan gerbang sekolah.
Nada segera menghampiri.
“Hujannya gede ya?” tanya ayahnya.
“Iya.”
Ayah tersenyum.
“Lama nunggu?”
“Nggak kok.”
Dan itu bukan bohong.
Karena untuk pertama kalinya, menunggu jemputan terasa lebih cepat dari biasanya.
Malam harinya, Nada sedang belajar di kamar ketika ponselnya berbunyi.
Grup kelas kembali ramai karena tugas Matematika.
Namun di tengah keramaian itu, pikirannya justru kembali ke sore tadi.
Percakapan mereka sebenarnya sangat biasa.
Tidak ada hal istimewa.
Tidak ada momen romantis seperti di film.
Hanya dua siswa yang sama-sama menunggu hujan reda.
Tapi entah kenapa…
Nada terus mengingatnya.
Cara Dino tertawa.
Cara Dino menggaruk belakang leher saat canggung.
Dan cara Dino memperkenalkan dirinya sendiri padahal semua orang sudah tahu siapa dia.
Nada menatap jendela kamarnya.
Di luar, hujan masih turun pelan.
Lalu tanpa sadar, ia tersenyum kecil.
Karena untuk pertama kalinya sejak masuk SMA…
Ada seseorang yang berhasil membuat hari biasa terasa sedikit lebih istimewa.

Hi, I'm Nuria
Website ini memulai perjalanan pada Juli 2021. Berfokus pada rumah, kreativitas, dan gaya hidup.
