
Minggu-minggu pertama di SMA Mandala berjalan lebih lambat daripada yang dibayangkan Nada.
Setiap pagi ia datang lebih awal bersama ayahnya yang selalu bersikeras berangkat sebelum jalanan ramai. Ayahnya memang sudah pensiun, tetapi kebiasaan disiplin yang terbentuk selama puluhan tahun bekerja masih sulit hilang.
“Kalau datang pagi kan nggak buru-buru,” begitu alasan ayahnya.
Dan Nada tidak pernah membantah.
Baginya, datang lebih awal justru menyenangkan. Koridor sekolah masih sepi. Belum banyak suara tawa atau keributan yang membuatnya gugup.
Namun begitu jam masuk semakin dekat, sekolah berubah menjadi dunia yang berbeda.
Ramai.
Berisik.
Dan kadang membuat Nada merasa tidak terlihat.
Di kelas X-4, sebagian besar murid sudah mulai menemukan kelompok pertemanan masing-masing.
Ada kelompok anak basket.
Ada kelompok anak yang suka K-pop.
Ada kelompok yang selalu heboh membahas game online.
Dan seperti biasa, Nada tidak masuk ke kelompok mana pun.
Saat jam istirahat pertama, ia duduk sendiri sambil membuka bekal yang dibuat ibunya.
Baru dua suap nasi masuk ke mulutnya ketika seseorang meletakkan nampan makanan di depannya.
“Sendirian?”
Nada mendongak.
Wina.
Cewek berambut pendek yang dikenalnya saat MOS.
Tanpa menunggu jawaban, Wina langsung duduk.
Beberapa detik kemudian Bayu datang membawa es teh.
Lalu Cipa menyusul sambil membawa semangkuk bakso.
“Kenapa semua orang duduk sini?” tanya Nada pelan.
Bayu langsung menunjuk sekeliling kantin.
“Kami juga nggak punya tempat.”
“Jangan fitnah,” protes Cipa.
“Tapi bener.”
Wina langsung mengangguk setuju.
“Kalau dipikir-pikir kita ini sisa seleksi alam.”
Nada tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk SMA, makan siang terasa tidak terlalu sepi.
Hari-hari berikutnya mereka mulai semakin sering bersama.
Mereka duduk di pojok kantin yang sama.
Belajar di perpustakaan yang sama.
Bahkan pulang sekolah pun sering menunggu di tempat yang sama.
Meski begitu, mereka tetap kelompok yang aneh.
Wina terlalu berisik.
Bayu terlalu random.
Cipa terlalu galak.
Sedangkan Nada terlalu diam.
Namun justru karena sama-sama tidak cocok dengan kelompok lain, mereka cocok satu sama lain.
Suatu hari Bayu datang ke kelas dengan wajah serius.
“Aku punya teori.”
Cipa langsung menghela napas.
“Mulai lagi.”
Bayu menunjuk kipas angin kelas.
“Kalian sadar nggak kalau kipas angin itu sebenarnya alat pengawas pemerintah?”
Wina langsung tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.
Sedangkan Nada hanya menutup mulutnya sambil menahan tawa.
“Lu kebanyakan nonton YouTube tengah malam,” kata Cipa.
“Tapi kemungkinan itu ada.”
“Diam.”
Dan begitulah hampir setiap hari mereka.
Tidak penting.
Tidak hebat.
Tapi menyenangkan.
Sementara itu, kehidupan Dino berjalan jauh berbeda.
Namanya mulai semakin sering terdengar di berbagai sudut sekolah.
“Anak X-2 yang tinggi itu kan?”
“Iya, Dino.”
“Katanya nilai Matematikanya paling tinggi.”
“Masuk OSIS juga katanya.”
Nada sering mendengar namanya tanpa sengaja.
Di kantin.
Di perpustakaan.
Di lapangan.
Bahkan guru-guru mulai mengenalnya.
Namun sejauh ini, Dino masih hanyalah seseorang yang sesekali dilihat Nada dari kejauhan.
Tidak lebih.
Ada satu orang yang membuat nama Dino semakin terkenal.
Namanya Rere.
Cewek kelas X-1 yang terkenal petakilan dan tidak punya rasa malu.
Kalau siswa lain diam-diam mengagumi Dino, Rere justru terang-terangan.
Suatu siang kantin sedang ramai ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan.
“DINOOOO!”
Seluruh kantin menoleh.
Nada yang sedang minum sampai hampir tersedak.
Di tengah keramaian, Rere melambaikan tangan seperti sedang memanggil artis terkenal.
Sedangkan Dino yang sedang makan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Apalagi sih, Re?” katanya pasrah.
“Aku mau kasih tahu sesuatu.”
“Apa?”
“Aku mimpi kita nikah.”
Satu kantin langsung pecah tertawa.
Teman-teman Dino bahkan sampai memukul meja karena ngakak.
Sedangkan Dino hanya bisa menggeleng.
“Astaghfirullah.”
Rere malah tersenyum bangga.
“Aku anggap itu doa.”
Nada ikut tertawa kecil melihat pemandangan itu.
Lucu.
Karena Dino yang terlihat tenang ternyata sering jadi korban kehebohan Rere.
Meski sering mendengar cerita tentang Dino, sebenarnya Nada tidak pernah benar-benar memikirkan cowok itu.
Setidaknya belum.
Ia hanya menganggap Dino sebagai salah satu murid populer yang kehidupannya jauh berbeda.
Dino aktif.
Punya banyak teman.
Sering terlibat kegiatan sekolah.
Sedangkan Nada bahkan masih kesulitan berbicara di depan kelas.
Mereka seperti hidup di dua dunia yang berbeda.
Dan itu normal.
Suatu hari guru Bahasa Indonesia membagi kelompok presentasi.
Seperti biasa, kelas langsung ramai.
“Aku sama mereka ya!”
“Eh sini kurang satu!”
“Gabung sini aja!”
Dalam waktu kurang dari dua menit, hampir semua kelompok sudah terbentuk.
Kecuali Nada.
Ia berdiri sambil memegang buku.
Menunggu.
Dan sedikit berharap ada yang mengajaknya.
Namun tidak ada.
Perasaan itu sebenarnya sudah biasa.
Tetapi tetap saja tidak nyaman.
Sampai akhirnya guru berkata,
“Yang belum dapat kelompok gabung kelompok mana saja yang kurang anggota.”
Nada mengangguk kecil.
Lalu berjalan menuju kelompok yang masih kurang satu orang.
Seperti biasanya.
Namun saat presentasi selesai, Wina tiba-tiba menyenggol lengannya.
“Nad.”
“Hm?”
“Nanti kalau kuliah kita masih temenan nggak?”
Nada mengernyit.
“Masih jauh.”
“Tapi jawab dulu.”
“Tergantung.”
Bayu langsung menyela.
“Kalau aku jadi orang kaya nanti, kalian semua aku ajak naik helikopter.”
“Naik motor dulu yang bener,” sahut Cipa.
Mereka tertawa bersama.
Dan untuk sesaat, Nada merasa hangat.
Karena meskipun mereka bukan kelompok paling populer di sekolah, setidaknya ia tidak lagi sendirian.
Sore itu Nada kembali duduk dekat jendela kelas sambil menunggu ayahnya menjemput.
Lapangan sekolah terlihat lebih sepi dibanding biasanya.
Beberapa siswa masih mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
Di kejauhan, ia melihat Dino berjalan bersama beberapa anak OSIS menuju aula.
Mereka terlihat sibuk membahas sesuatu.
Nada hanya melihat sekilas sebelum kembali menutup bukunya.
Saat itu ia belum tahu.
Bahwa suatu hari nanti, cowok yang sedang berjalan di lapangan itu akan menjadi salah satu kenangan terbesar selama masa SMA-nya.
Dan semua itu akan dimulai dari hal-hal kecil yang bahkan belum terjadi.

Hi, I'm Nuria
Website ini memulai perjalanan pada Juli 2021. Berfokus pada rumah, kreativitas, dan gaya hidup.
