satu bangku di belakang jendela
Satu Bangku di Belakang Jendela

Hari pertama MOS selalu terasa ribut.

Lapangan SMA Mandala dipenuhi siswa baru berseragam putih abu-abu yang wajahnya masih terlihat canggung. Ada yang sibuk mencari teman, ada yang tertawa terlalu keras karena gugup, ada juga yang sudah kelihatan percaya diri seolah SMA adalah rumah kedua mereka.

Nada bukan salah satunya.

Ia duduk di barisan kelas X-4 sambil memeluk map birunya erat. Dari tadi ia hanya menunduk sambil sesekali melihat kertas jadwal MOS yang sebenarnya sudah ia hafal sejak semalam.

“Kamu kelas berapa?”

Nada menoleh pelan. Seorang cewek berambut pendek menatapnya sambil membawa botol minum warna kuning terang.

“X-4…”

“Oh sama.”

Cewek itu langsung duduk tanpa izin.

“Aku Wina.”

“Nada…”

“Wah, kamu kalem banget.”

Nada cuma tersenyum kecil.

Di belakang Wina muncul dua orang lain. Cowok kurus berkacamata dengan rambut sedikit berantakan dan cewek berhijab yang mukanya terlihat jutek.

“Kenalin,” kata Wina. “Ini Bayu sama Cipa.”

Bayu mengangkat tangan malas. “Halo manusia baru.”

Cipa langsung menoyor kepala Bayu.

“Jangan aneh-aneh baru kenal.”

Entah kenapa Nada merasa mereka bertiga aneh.

Tapi aneh yang… nyaman.

“SEMUA BERDIRI!”

Suara kakak OSIS membuat lapangan langsung ramai bergerak.

Nada ikut berdiri cepat.

Saat itulah matanya tanpa sengaja melihat cowok tinggi di barisan kelas sebelah.

Kulitnya putih bersih.

Badannya tinggi.

Rambut hitamnya rapi walau sedikit kena angin.

Name tag di dadanya bertuliskan:

X-2 — Dino Alfariz.

Cowok itu sedang membantu temannya memasang atribut MOS yang salah.

“Ini kebalik,” katanya sambil tertawa kecil.

Nada memperhatikan beberapa detik sebelum buru-buru membuang pandangan.

Cowok itu terlihat friendly.

Tapi tidak berisik.

Dan anehnya, saat seorang siswi mengajaknya ngobrol, Dino malah terlihat salah tingkah sendiri sambil menjawab seperlunya.

“Eh itu Dino ya?”

“Iya yang katanya pinter itu.”

“Ganteng sih.”

Nada pura-pura tidak mendengar bisikan beberapa siswi di belakangnya.

Ia tidak terlalu tertarik memikirkan cowok populer.

Lagipula…

Cowok seperti Dino pasti punya dunia yang jauh berbeda dengannya.

MOS berjalan melelahkan.

Saat pembagian kelompok, semua orang langsung bergerak mencari teman sendiri.

“Nad ikut sini!”

Nada spontan menoleh berharap dipanggil.

Ternyata bukan dirinya.

Ia kembali diam sambil memegang map.

Beberapa kelompok sudah penuh.

Nada berdiri cukup lama sampai akhirnya ada kelompok yang kekurangan satu orang.

“Eh kurang satu.”

“Siapa aja deh.”

Salah satu anak menunjuk Nada.

“Kamu mau gabung?”

Nada langsung mengangguk kecil lega.

“Iya…”

Namun selama diskusi berlangsung, ia hampir tidak diajak bicara.

Dan itu sudah biasa.

Nada memang sering merasa seperti pelengkap.

Sampai Wina tiba-tiba berbisik di sebelahnya.

“Kita bikin geng orang tersisih yuk.”

Nada menoleh bingung.

“Hah?”

Bayu ikut menyahut, “Karena kita semua gagal jadi anak terkenal.”

Cipa mendecak.

“Kalian malu-maluin.”

Tapi Nada malah tertawa kecil.

Dan sejak hari itu, mereka berempat mulai sering bersama.

Hari-hari pertama sekolah terasa asing.

Nada lebih banyak diam di kelas sambil memperhatikan suasana baru di SMA.

Teman-teman lain mulai punya circle masing-masing.

Sedangkan dirinya masih sering tertinggal dalam obrolan.

Kalau ada tugas kelompok, Nada biasanya menunggu sampai kelompok lain penuh dulu baru mencari kelompok yang kekurangan anggota.

Bukan karena sombong.

Ia hanya takut mengganggu.

Di jam istirahat, Nada lebih sering makan bekal di kelas bersama geng anehnya.

Wina selalu punya gosip terbaru.

Bayu sibuk menggambar anime di buku.

Cipa ngomel tiap lihat Bayu tidur di kelas.

Sedangkan Nada cukup mendengarkan sambil tersenyum kecil.

“Aku yakin Bayu nanti nikah sama karakter anime,” kata Cipa.

Bayu langsung menunjuk dirinya sendiri bangga.

“Minimal dia gak nyakitin.”

“Najis.”

Nada tertawa kecil lagi.

Dan untuk pertama kalinya sejak masuk SMA, ia merasa tidak terlalu sendirian.

Sementara itu, nama Dino mulai makin sering terdengar.

Katanya pintar.

Katanya ramah.

Katanya calon anggota OSIS.

Bahkan guru-guru mulai hafal namanya.

“Anak X-2 si Dino aktif banget ya.”

“Iya sopan juga.”

Dan tentu saja…

Sudah mulai banyak cewek menyukainya.

Yang paling heboh adalah Rere.

Cewek kelas X-1 yang terkenal petakilan dan terlalu percaya diri.

“DINOOOO!”

Suara Rere pernah menggema satu kantin hanya untuk meminjam penghapus.

Teman-teman Dino langsung ngakak.

Sedangkan Dino cuma menutup muka malu.

“Apaan sih Re…”

“Lu tuh cocok jadi pacar aku.”

“ISTIGHFAR,” jawab Dino spontan.

Satu meja langsung pecah ketawa.

Nada yang kebetulan lewat kantin bersama Wina cuma melirik sekilas sebelum berjalan lagi.

Entah kenapa lucu juga melihat cowok setenang Dino harus menghadapi Rere setiap hari.

Hari itu sepulang sekolah, Nada duduk sendiri dekat jendela kelas sambil menunggu ayahnya menjemput.

Langit mulai mendung.

Angin sore masuk pelan lewat jendela.

Nada suka suasana seperti ini.

Tenang.

Tidak terlalu ramai.

Dari tempat duduknya, ia bisa melihat lapangan sekolah.

Dan lagi-lagi…

Matanya menangkap sosok Dino.

Cowok itu sedang membantu guru olahraga membawa bola ke gudang bersama beberapa teman OSIS.

Ia tertawa kecil mendengar sesuatu dari temannya.

Sederhana.

Tapi entah kenapa mudah diperhatikan.

Nada buru-buru mengalihkan pandangan saat sadar dirinya terlalu lama melihat.

“Ngapain bengong?”

Nada kaget.

Ternyata Wina muncul tiba-tiba.

“Kamu suka ya sama anak OSIS itu?”

Nada langsung panik.

“Apaan sih!”

“Yang tinggi itu.”

“Enggak.”

Wina malah nyengir.

“Halah.”

Nada langsung memalingkan wajah ke jendela lagi.

Padahal dalam hati ia sendiri bingung.

Apa ia suka?

Atau hanya penasaran?

Karena sejauh ini…

Dino hanyalah cowok di lapangan yang bahkan mungkin tidak sadar dirinya ada.

hi nuria

Hi, I'm Nuria

Website ini memulai perjalanan pada Juli 2021. Berfokus pada rumah, kreativitas, dan gaya hidup.

No data was found