Setelah kejadian kak Alan yang menolak balikan dengan mantan pacarnya itu, setiap aku berpapasan atau tak sengaja bertemu pandang dengan kak Farah, ia seperti menatapku tak suka. Entah itu tatapan tajam, sinis, bahkan remeh. Entahlah, kadang ia menatapku dari bawah ke atas seolah menilaiku.
Awalnya aku memang sedikit merasa bersalah saat banyak yang menyalahkanku. Tapi setelah gosip jika kak Farah selingkuh, seketika aku sadar jika itu bukan salahku.
Saat kak Alan mulai dekat dengan kak Farah, aku sudah tahu batasanku. Aku maupun kak Alan sama-sama membuat jarak. Seolah itu memang seharusnya. Tentu, aku tahu posisiku dan kak Alan pun tahu prioritasnya saat itu.
Bahkan sekedar untuk bertegur sapapun, hanya sebatas senyum singkat, lalu kita memilih saling acuh tak acuh. Seperti 2 orang asing yang menjadikan senyuman sebagai ungkapan tata krama. Se-effort itu, tapi masih saja, namaku tetap di kambing hitamkan.
“Apa cuma perasaan gue doang, kalau tatapan kak Farah pas lihat kita agak beda?” tanya Lily.
Aku menopang dagu sambil memutar bola mata. “ Bukan agak beda lagi, tapi udah keterlaluan.”
Lily berdecak, “ Bener, maunya apa sih kakak kelas tuh? Gak disapa, nyindir adek kelas gak ada sopan santunnya sama kakak kelas. Disapa, malah tengil banget, sok-sokan kayak emak bapaknya yang punya sekolah aja.”
Aku tertawa, sedikit terhibur dengan gerutuan Lily yang memang fakta. “Heh! Kalau ada kakak kelas yang denger, gue gak ikut-ikutan ya?” tegurku bercanda.
Seketika Lily panik, ia menoleh kekanan dan kekiri, membuatku makin tertawa kencang.
Lily menghela napas saat dirasa aman. “Sepi yaa ….”
Saat ini, sekolah masih diliputi euforia perlombaan, juga persiapan untuk PENSI yang sebentar lagi akan diadakan. Oleh sebab itu, beberapa siswa masih ada yang mengikuti perlombaan dan beberapa siswa lainnya memilih untuk latihan, mempersiapkan diri agar penampilan mereka diacara PENSI nanti lancar dan bagus.
“Van!” panggil seseorang, membuatku dan Lily refleks menoleh. “Eh, ada Lily juga ternyata,” imbuhnya.
Aku menatap penampilan Kak Kim yang cukup diacungi jempol ke-kerenannya. “Udah selesai lomba basketnya?”
“Baru aja selesai, kok kalian gak kesana sih? Padahal tadi rame banget, banyak cewek yang teriak-teriak.” Kak Kim mengusap wajah yang masih berkeringat menggunakan kaosnya lalu duduk di samping Lily.
Lily menyalakan mini fan yang memang sedari pagi ia bawa kemana-mana, lalu mengarahkannya ke leher Kak Kim. “ Eh, ini kipas gue kan?” Lily mengangguk lalu mengangsurkan kipas mini itu ketangan Kak Kim.
“Oh ya, kalian udah makan belum?” imbuhnya bertanya.
“Kenapa? Lo mau nraktir kita makan, Kak?” gurauku asal.
“Iya, gue gak ada temen ke Kantin. Gak tahu Bagas tadi kemana? Temenin gue makan, yuk! Gue traktir deh.”
Aku menoleh kearah Lily dengan wajah berbinar, memberikan kode agar menerima tawaran tersebut. Lily menatapku ragu. “Emm … Vanilla aja deh yang Kakak traktir, aku bisa bayar sendiri. Kemarin kan matcha latteku udah dibayarin sama Kak Kim.”
“Apa sih pake sungkan-sungkan segala? Tenang aja, duit gue banyak.” dengan tampang tengilnya, kak Kim menarikku dan Lily agar berjalan beriringan dengannya menuju Kantin.
“Gimana tadi lombanya? Menang gak Kak?” tanyaku basa-basi. Sebenarnya aku sudah tahu, dari mukanya saja sudah terlihat wajah-wajah muram, karena kalah telak.
Kak Kim berdecak, “Gimana mau menang? Kalian gak dateng buat nyemangatin gue.”
“Halah, gak ada kita juga udah banyak yang nyemangatin Kak Kim. Bilang aja kalau saingannya berat,” sindirku membuatnya terdiam dengan wajah makin muram.
“Emang siapa yang menang? Pasti kak Alan ya?” pertanyaan Lily yang seolah yakin jika orang itu yang pasti menang, membuat wajah Kak Kim berkali lipat lebih muram dari sindiranku tadi.
Di Sekolahku, jika berhubungan dengan bola voli, Kak Kim adalah rajanya, tapi jika sudah ke ranah basket, Kak Alan adalah tandingan terkuat. Sudah banyak penghargaan yang mereka dapatkan di olimpiade olahraga. Tak heran jika mereka berdua sangat terkenal, di dalam maupun di luar Sekolah.
Kita bertiga akhirnya sampai di area Kantin yang ternyata ramai.
“Siapa yang cari tempat duduk, siapa yang ambil makan? Gue ambil makan, jadi ada satu yang temenin gue.”
Aku menatap Lily. Lily adalah cewek introvert, jadi ia mungkin akan kesulitan nantinya. “Gue aja yang cari tempat duduk, lo sama Kak Kim ya, Ly. Makanannya samain aja, terserah.”
Setelah itu aku memisahkan diri, menoleh kekanan dan kekiri mencari tempat kosong. Sebenarnya area Kantin tuh luas. Mungkin karena bertepatan dengan selesainya pertandingan basket yang katanya ramai, semuanya langsung menuju kantin yang letaknya dekat dengan tempat pertandingan dan memenuhinya.
Di pojok ruangan, aku melihat bangku panjang yang sepertinya muat untuk 3 orang saling berhadapan. Ya, walaupun aku juga harus meminta izin pada orang yang sudah lebih dulu menempatinya. Gak masalah deh, daripada makan berdiri.
“Em … permisi, tempat duduk ini kosong gak?” tanyaku meminta izin. Membuat 4 orang disana menoleh padaku.
Aku mendengus, sedikit tak percaya dengan penglihatanku saat ini. Katanya gak mau balikan, tapi kok duduk hadap-hadapan di Kantin. Cih, kelihatan banget bullsh*tnya.

Hi, I'm Nuria
Website ini memulai perjalanan pada Juli 2021. Berfokus pada rumah, kreativitas, dan gaya hidup.
